
Wisatawan dan pelaku bisnis Finlandia yang menuju Amerika Serikat akan segera menghadapi perubahan paling besar dalam Sistem Elektronik Otorisasi Perjalanan Amerika (ESTA) sejak program ini dimulai pada 2009. Paket aturan yang diterbitkan pada 24 Januari 2026 mengharuskan warga negara dari negara-negara Program Pembebasan Visa—termasuk Finlandia—untuk menyerahkan riwayat media sosial selama lima tahun terakhir, detail kontak yang lebih lengkap, serta data biometrik tambahan saat mengajukan atau memperbarui ESTA mereka.
Dalam kebijakan baru ini, pelancong harus mencantumkan semua akun media sosial yang digunakan dalam lima tahun terakhir dan menyetujui bahwa petugas perbatasan AS dapat memeriksa postingan publik untuk keperluan pemeriksaan keamanan. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS juga akan memperluas pengambilan data biometrik tidak hanya sidik jari dan foto, tetapi juga pemindaian iris mata dan pengenalan wajah yang lebih canggih. Pemeriksaan yang lebih ketat ini dilakukan karena Washington menilai “intelijen sumber terbuka” sangat penting untuk penilaian risiko sebelum keberangkatan, namun para pendukung privasi di Uni Eropa dan Finlandia memperingatkan bahwa langkah ini bertentangan dengan prinsip minimisasi data dalam GDPR.
Dari sudut pandang mobilitas korporat, perusahaan Finlandia yang beroperasi di AS harus mempersiapkan staf untuk waktu proses yang lebih lama: persetujuan ESTA yang sebelumnya bisa didapat dalam hitungan menit kini bisa memakan waktu beberapa hari jika aplikasi harus diperiksa secara manual. Perusahaan pengelola perjalanan menyarankan klien untuk mengajukan permohonan ESTA setidaknya dua minggu sebelumnya dan melakukan audit terhadap konten media sosial publik karyawan untuk menghindari potensi masalah. Departemen SDM juga mungkin perlu memperbarui kebijakan mobilitas internal terkait pengungkapan data media sosial pribadi dan memberikan edukasi kepada pelancong tentang dampak aturan baru ini.
Maskapai penerbangan akan bertanggung jawab memastikan penumpang memiliki ESTA yang disetujui saat check-in. Kegagalan mendapatkan otorisasi berarti “tidak ada izin, tidak ada perjalanan,” menurut panduan DHS—kebijakan yang bisa menyebabkan biaya tambahan akibat pengalihan rute mendadak bagi eksportir Finlandia yang mengandalkan kunjungan tepat waktu ke mitra atau pabrik di AS. Kamar Dagang Amerika di Finlandia sudah menyatakan niatnya untuk mengangkat kekhawatiran terkait privasi data kepada pejabat AS, mengingat dampak komersialnya pada sektor teknologi, game, dan energi bersih Finlandia yang memiliki kehadiran besar di California, Texas, dan Midwest.
Meskipun aturan ini secara teknis berlaku untuk semua 42 negara Program Pembebasan Visa, Eropa akan merasakan dampak paling besar: pada 2025, warga Finlandia melakukan sekitar 240.000 perjalanan ke AS, hampir 60% di antaranya untuk keperluan bisnis atau MICE. Jika gesekan dengan GDPR semakin meningkat, para ahli hukum mengatakan solusi berbagi data bilateral—mirip dengan Kerangka Privasi Data UE-AS—mungkin diperlukan agar mobilitas antara Finlandia dan AS tetap berjalan lancar.
Dalam kebijakan baru ini, pelancong harus mencantumkan semua akun media sosial yang digunakan dalam lima tahun terakhir dan menyetujui bahwa petugas perbatasan AS dapat memeriksa postingan publik untuk keperluan pemeriksaan keamanan. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS juga akan memperluas pengambilan data biometrik tidak hanya sidik jari dan foto, tetapi juga pemindaian iris mata dan pengenalan wajah yang lebih canggih. Pemeriksaan yang lebih ketat ini dilakukan karena Washington menilai “intelijen sumber terbuka” sangat penting untuk penilaian risiko sebelum keberangkatan, namun para pendukung privasi di Uni Eropa dan Finlandia memperingatkan bahwa langkah ini bertentangan dengan prinsip minimisasi data dalam GDPR.
Dari sudut pandang mobilitas korporat, perusahaan Finlandia yang beroperasi di AS harus mempersiapkan staf untuk waktu proses yang lebih lama: persetujuan ESTA yang sebelumnya bisa didapat dalam hitungan menit kini bisa memakan waktu beberapa hari jika aplikasi harus diperiksa secara manual. Perusahaan pengelola perjalanan menyarankan klien untuk mengajukan permohonan ESTA setidaknya dua minggu sebelumnya dan melakukan audit terhadap konten media sosial publik karyawan untuk menghindari potensi masalah. Departemen SDM juga mungkin perlu memperbarui kebijakan mobilitas internal terkait pengungkapan data media sosial pribadi dan memberikan edukasi kepada pelancong tentang dampak aturan baru ini.
Maskapai penerbangan akan bertanggung jawab memastikan penumpang memiliki ESTA yang disetujui saat check-in. Kegagalan mendapatkan otorisasi berarti “tidak ada izin, tidak ada perjalanan,” menurut panduan DHS—kebijakan yang bisa menyebabkan biaya tambahan akibat pengalihan rute mendadak bagi eksportir Finlandia yang mengandalkan kunjungan tepat waktu ke mitra atau pabrik di AS. Kamar Dagang Amerika di Finlandia sudah menyatakan niatnya untuk mengangkat kekhawatiran terkait privasi data kepada pejabat AS, mengingat dampak komersialnya pada sektor teknologi, game, dan energi bersih Finlandia yang memiliki kehadiran besar di California, Texas, dan Midwest.
Meskipun aturan ini secara teknis berlaku untuk semua 42 negara Program Pembebasan Visa, Eropa akan merasakan dampak paling besar: pada 2025, warga Finlandia melakukan sekitar 240.000 perjalanan ke AS, hampir 60% di antaranya untuk keperluan bisnis atau MICE. Jika gesekan dengan GDPR semakin meningkat, para ahli hukum mengatakan solusi berbagi data bilateral—mirip dengan Kerangka Privasi Data UE-AS—mungkin diperlukan agar mobilitas antara Finlandia dan AS tetap berjalan lancar.
Sumber: Travel and Tour World