
Inggris Raya telah memberlakukan pembatasan sanitasi segera pada berbagai produk hewan asal Siprus setelah pulau tersebut mengonfirmasi kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi dan domba di dekat Larnaca. Rilis pers Defra tanggal 25 Februari 2026 memerintahkan pengiriman komersial ternak hidup, daging segar, dan produk susu yang belum diolah untuk ditahan atau diekspor ulang sementara penilaian risiko masih berlangsung. Meskipun langkah ini ditujukan pada barang, bukan orang, dampaknya nyata bagi penyedia logistik dan eksportir Siprus. Pengangkut halloumi, olahan daging, atau produk sampingan hewan harus membuktikan perlakuan panas atau langkah mitigasi lain sebelum pengiriman dapat melewati Pos Kontrol Perbatasan Inggris. Badan Kesehatan Hewan dan Tumbuhan (APHA) mengingatkan pengirim barang untuk mengantisipasi pemeriksaan dokumen yang lebih ketat dan inspeksi fisik di pelabuhan seperti Dover dan Liverpool. Siprus mengekspor sekitar €28 juta produk hewan dan susu ke Inggris pada 2025, dan kelompok industri khawatir keterlambatan pengiriman dapat mengancam kontrak ritel menjelang periode Paskah. Beberapa jaringan toko sudah beralih ke halloumi asal Yunani atau Bulgaria untuk menghindari ketidakpastian, menurut Dewan Produk Pertanian Siprus. Bagi manajer mobilitas, kejadian ini mengingatkan bahwa darurat veteriner bisa berdampak pada perjalanan bisnis dan perencanaan penugasan. Perusahaan yang memindahkan staf dengan hewan peliharaan harus memeriksa aturan karantina, dan tim proyek yang mengangkut sampel ilmiah atau peralatan katering perlu memastikan apakah carnet impor sementara masih diterima. Defra menegaskan bahwa PMK tidak membahayakan kesehatan manusia, namun memperingatkan bahwa impor pribadi daging dan produk susu dari Siprus tetap dilarang. Kepala Petugas Veteriner Inggris mengimbau para pelancong “untuk sangat berhati-hati” agar tidak membawa pulang sandwich atau suvenir yang berpotensi membawa virus.