
Dengan ruang udara Qatar yang masih ditutup akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, ratusan warga Brasil yang bekerja di Teluk Persia mendadak mencari cara untuk pulang. Pada malam 10 Maret 2026, Itamaraty mengumumkan penerbangan bantuan yang diatur pemerintah bersama Qatar Airways, yang akan berangkat dari Doha pada 12 Maret dan tiba di São Paulo/Guarulhos. Kursi juga akan disediakan bagi warga negara Amerika Selatan lain yang terjebak di wilayah tersebut. Operasi ini dilakukan setelah pembicaraan langsung antara Menteri Luar Negeri Mauro Vieira dan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Kedutaan Besar Brasil di Doha telah membuka pendaftaran online bagi penumpang dan menyarankan para pelancong untuk membawa tiket lanjutan cetak serta bukti akomodasi guna memperlancar pemeriksaan di bandara. Pemohon yang dianggap rentan—seperti pelajar, lansia, dan turis dengan visa yang akan habis masa berlakunya—akan mendapat prioritas. Perusahaan risiko perjalanan memuji respons cepat ini, namun mencatat bahwa larangan penerbangan di atas Selat Hormuz masih mengganggu pengiriman barang dan rotasi kru. Para eksportir daging sapi dingin Brasil ke Teluk, yang sering mengirim ahli teknis untuk memeriksa fasilitas rantai dingin, kini meninjau ulang rencana darurat dengan mengalihkan staf melalui Muscat atau Dubai, di mana penerbangan terbatas sudah dimulai kembali. Bagi tim mobilitas global, insiden ini menegaskan pentingnya sistem pelacakan pelancong yang mutakhir dan kerangka evakuasi krisis. Perusahaan yang memiliki ekspatriat di Timur Tengah disarankan untuk memverifikasi kembali rantai kontak darurat dan memeriksa ulang tanggal kedaluwarsa visa, karena perpanjangan mungkin diperlukan jika perjalanan lanjutan masih belum pasti.
Sumber: Tribuna do Agreste