
Bursa kripto Binance telah memberi tahu sekitar 1.000 karyawannya yang berbasis di UEA—sekitar 20% dari total tenaga kerja globalnya—bahwa mereka mungkin akan dipindahkan sementara ke empat kota di Asia di tengah ketegangan regional yang berlanjut. Perusahaan menyatakan operasi di Abu Dhabi Global Market (ADGM) tetap berjalan normal, namun ingin memberikan fleksibilitas kepada staf setelah enam minggu peringatan serangan misil dan drone di Teluk. Seorang juru bicara mengonfirmasi kepada CoinDesk bahwa opsi relokasi mencakup Hong Kong, Tokyo, Kuala Lumpur, dan Bangkok, dan dapat segera diaktifkan dengan dukungan HR untuk urusan tempat tinggal dan visa. Binance adalah organisasi yang mengutamakan kerja jarak jauh, sehingga sebagian besar posisi dapat dipindahkan tanpa mengganggu operasional, tambah perusahaan tersebut. Para penasihat mobilitas menyebut kebijakan ini sebagai contoh ideal tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan di zona konflik: karyawan bebas memilih untuk tetap tinggal atau pindah, biaya ditanggung perusahaan, dan kepatuhan imigrasi sudah diatur sebelumnya melalui penasihat lokal. Perusahaan multinasional lain yang memiliki kantor besar di Dubai juga dikabarkan sedang mempertimbangkan rencana kontinjensi “basis ganda” serupa. Penyelenggara acara pun sudah merasakan dampaknya: konferensi kripto utama TOKEN2049 Dubai ditunda hingga 2027, sementara konferensi industri lain dibatalkan atau dialihkan ke format daring. Relokasi ini dengan demikian melindungi kesejahteraan staf sekaligus kelangsungan bisnis, menegaskan peran UEA yang masih sentral namun tidak eksklusif dalam operasi kripto global.
Sumber: CoinCentral