
China akan memperluas penggunaan jalur imigrasi biometrik ‘face-swipe’ di gelombang berikutnya pada bandara, terminal feri, dan pos pemeriksaan darat yang menghubungkan daratan utama dengan Hong Kong, Makau, dan Taiwan, lapor Biometric Update pada 4 November 2025. Mulai 5 November, jalur otomatis ini akan dioperasikan di Bandara Shanghai Hongqiao dan Xiamen Gaoqi, pelabuhan penumpang Pazhou dan Nansha di Guangzhou, serta beberapa titik perbatasan Shenzhen seperti Huanggang, Luohu, Futian, dan Liantang, termasuk Pelabuhan Hengqin dan Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makau.
Pelancong yang memenuhi syarat—warga daratan dengan izin masuk multi-kali, penduduk Hong Kong dan Makau yang memegang izin perjalanan ke daratan, serta warga Taiwan dengan izin masuk lima tahun—cukup mendaftarkan biometrik wajah dan sidik jari sekali saja, kemudian dapat melewati imigrasi dalam waktu hanya tujuh detik, menurut uji coba NIA. Peningkatan ini meningkatkan kapasitas arus penumpang hingga 65 persen menjelang acara besar seperti Pekan Olahraga Nasional 2026.
Peluncuran ini merupakan bagian dari cetak biru ‘Smart Immigration Clearance’ China, yang menargetkan perbatasan tanpa kontak sepenuhnya pada akhir dekade ini. Pembaca e-paspor ACS AIR60U baru akan dipasang di gerbang elektronik, mampu melakukan verifikasi OCR, RFID, dan kode QR dalam waktu kurang dari satu detik.
Para pekerja korporat yang rutin melintasi perbatasan antara Shenzhen dan Hong Kong akan merasakan manfaat terbesar: insinyur yang bepergian setiap hari dapat menghemat 30–40 menit perjalanan pulang-pergi, mendukung operasi R&D terintegrasi di Kawasan Teluk Besar. Perusahaan diimbau mengingatkan staf bahwa penggunaan jalur biometrik berarti memberikan persetujuan untuk pemrosesan pengenalan wajah; pernyataan privasi ditampilkan di setiap gerbang.
Pihak berwenang menyatakan fase berikutnya, yang dijadwalkan pada 2026, akan memperluas jalur ke bandara dalam negeri yang melayani penerbangan internasional, semakin mempercepat waktu koneksi bagi tim multinasional yang berpindah antara pusat teknologi China dan kantor pusat luar negeri.
Pelancong yang memenuhi syarat—warga daratan dengan izin masuk multi-kali, penduduk Hong Kong dan Makau yang memegang izin perjalanan ke daratan, serta warga Taiwan dengan izin masuk lima tahun—cukup mendaftarkan biometrik wajah dan sidik jari sekali saja, kemudian dapat melewati imigrasi dalam waktu hanya tujuh detik, menurut uji coba NIA. Peningkatan ini meningkatkan kapasitas arus penumpang hingga 65 persen menjelang acara besar seperti Pekan Olahraga Nasional 2026.
Peluncuran ini merupakan bagian dari cetak biru ‘Smart Immigration Clearance’ China, yang menargetkan perbatasan tanpa kontak sepenuhnya pada akhir dekade ini. Pembaca e-paspor ACS AIR60U baru akan dipasang di gerbang elektronik, mampu melakukan verifikasi OCR, RFID, dan kode QR dalam waktu kurang dari satu detik.
Para pekerja korporat yang rutin melintasi perbatasan antara Shenzhen dan Hong Kong akan merasakan manfaat terbesar: insinyur yang bepergian setiap hari dapat menghemat 30–40 menit perjalanan pulang-pergi, mendukung operasi R&D terintegrasi di Kawasan Teluk Besar. Perusahaan diimbau mengingatkan staf bahwa penggunaan jalur biometrik berarti memberikan persetujuan untuk pemrosesan pengenalan wajah; pernyataan privasi ditampilkan di setiap gerbang.
Pihak berwenang menyatakan fase berikutnya, yang dijadwalkan pada 2026, akan memperluas jalur ke bandara dalam negeri yang melayani penerbangan internasional, semakin mempercepat waktu koneksi bagi tim multinasional yang berpindah antara pusat teknologi China dan kantor pusat luar negeri.
Sumber: Biometric Update