
Pusat kota Melbourne menjadi titik panas dalam perdebatan migrasi Australia pada 26 Januari ketika sekitar 100.000 orang berkumpul untuk mengikuti aksi unjuk rasa yang saling berseberangan. Aksi ‘Invasion Day’ yang sudah lama berlangsung—dipimpin oleh tetua First Nations dan kelompok hak pengungsi—menuntut agar hari libur nasional diganti dengan hari berkabung serta perlindungan yang lebih kuat bagi pencari suaka. Tak jauh dari situ, aksi ‘March for Australia’ menarik aktivis sayap kanan dan simpatisan neo-Nazi yang meneriakkan slogan anti-imigrasi seperti “Tutup perbatasan” dan “Jaga Australia tetap Australia.”
Polisi menurunkan pasukan anti huru-hara dan unit berkuda untuk menjaga jarak antara kedua kelompok setelah ancaman online memicu kekhawatiran akan kekerasan. Dua keributan kecil berujung pada penangkapan, namun kehadiran polisi yang besar mencegah bentrokan besar. Penyelenggara acara komunitas multikultural di CBD membatalkan program sore hari dengan alasan keamanan bagi mahasiswa internasional dan pekerja terampil baru yang tinggal di akomodasi sekitar.
Bagi manajer mobilitas global, kejadian ini menegaskan sensitivitas tinggi terkait imigrasi menjelang pengumuman kuota Program Migrasi 2026-27 yang diperkirakan akan diumumkan dalam Anggaran Mei. Organisasi advokasi memperingatkan bahwa sentimen publik yang negatif bisa memengaruhi debat parlemen mendatang mengenai visa Keterampilan yang Dibutuhkan dan kuota DAMA regional yang diperluas.
Perusahaan dengan karyawan yang tiba minggu ini disarankan untuk meninjau rute perjalanan dari Bandara Melbourne dan memberi pengarahan kepada karyawan agar menghindari area protes di sekitar Gedung Parlemen, Stasiun Flinders Street, dan Museum Imigrasi yang sempat ditutup sementara setelah dilempari telur.
Meski aksi unjuk rasa berakhir pada sore hari, Polisi Victoria masih menjaga kehadiran yang terlihat di CBD dan menyatakan akan ada demonstrasi lanjutan selama akhir pekan panjang. Tim mobilitas disarankan memantau media lokal dan memastikan protokol komunikasi darurat mencakup skenario kerusuhan sipil, terutama bagi pengunjung bisnis jangka pendek yang belum familiar dengan ketegangan lokal.
Polisi menurunkan pasukan anti huru-hara dan unit berkuda untuk menjaga jarak antara kedua kelompok setelah ancaman online memicu kekhawatiran akan kekerasan. Dua keributan kecil berujung pada penangkapan, namun kehadiran polisi yang besar mencegah bentrokan besar. Penyelenggara acara komunitas multikultural di CBD membatalkan program sore hari dengan alasan keamanan bagi mahasiswa internasional dan pekerja terampil baru yang tinggal di akomodasi sekitar.
Bagi manajer mobilitas global, kejadian ini menegaskan sensitivitas tinggi terkait imigrasi menjelang pengumuman kuota Program Migrasi 2026-27 yang diperkirakan akan diumumkan dalam Anggaran Mei. Organisasi advokasi memperingatkan bahwa sentimen publik yang negatif bisa memengaruhi debat parlemen mendatang mengenai visa Keterampilan yang Dibutuhkan dan kuota DAMA regional yang diperluas.
Perusahaan dengan karyawan yang tiba minggu ini disarankan untuk meninjau rute perjalanan dari Bandara Melbourne dan memberi pengarahan kepada karyawan agar menghindari area protes di sekitar Gedung Parlemen, Stasiun Flinders Street, dan Museum Imigrasi yang sempat ditutup sementara setelah dilempari telur.
Meski aksi unjuk rasa berakhir pada sore hari, Polisi Victoria masih menjaga kehadiran yang terlihat di CBD dan menyatakan akan ada demonstrasi lanjutan selama akhir pekan panjang. Tim mobilitas disarankan memantau media lokal dan memastikan protokol komunikasi darurat mencakup skenario kerusuhan sipil, terutama bagi pengunjung bisnis jangka pendek yang belum familiar dengan ketegangan lokal.
Sumber: Herald Sun