
Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo mengakhiri kunjungan kerja satu hari ke Beijing pada 27 Januari dengan pertemuan selama satu jam bersama Presiden Xi Jinping yang menempatkan mobilitas antarwarga sebagai agenda utama bilateral. Meskipun pengumuman utama berfokus pada kerja sama iklim dan investasi teknologi hijau, pejabat senior memastikan kedua pihak ingin mengubah rezim bebas visa 30 hari yang ada bagi pelancong Finlandia ke China menjadi pengaturan permanen dan, pada akhirnya, skema timbal balik bagi pengunjung bisnis China ke Finlandia.
Latar Belakang dan Konteks
Finlandia telah menikmati kebijakan bebas visa sepihak ke China sejak akhir 2023, dengan pembebasan visa saat ini berlaku hingga 31 Desember 2026. Kebijakan ini telah menghidupkan kembali arus perjalanan dua arah: menurut Visit Finland, kedatangan wisatawan China ke Finlandia naik 13 persen secara tahunan antara Januari dan September 2025, sementara maskapai Finlandia melaporkan tingkat keterisian kursi 85 persen pada rute Helsinki–Shanghai. Namun, kelompok bisnis mengatakan pertumbuhan terhambat karena tidak adanya pembebasan visa yang sepadan bagi eksekutif China yang menuju Finlandia untuk menyelesaikan kesepakatan.
Kesepakatan yang Dicapai
Di Beijing, Xi mengatakan China “siap menyambut lebih banyak teman Finlandia untuk merasakan China yang kuno sekaligus modern,” dan mendorong perusahaan Finlandia untuk “menyelam ke lautan luas pasar China.” Orpo, di sisi lain, mengundang delegasi China untuk mengeksplorasi proyek hidrogen Finlandia dan mengusulkan pembentukan kelompok kerja untuk mempelajari perjalanan singkat yang lebih mudah bagi teknisi China yang memasang peralatan di situs industri Finlandia. Kedua pemimpin menginstruksikan kementerian luar negeri mereka untuk memulai pembicaraan tentang fasilitasi visa jangka panjang secara timbal balik, dimulai dengan visa bisnis multi-masuk yang berlaku hingga lima tahun.
Implikasi Praktis
KTT ini mengirim sinyal jelas kepada perusahaan multinasional yang beroperasi di kedua negara. Perusahaan yang merencanakan siklus anggaran 2026 dapat mengharapkan proses izin yang lebih cepat untuk staf yang dipinjamkan dan harus menyiapkan kebijakan mobilitas internal yang memanfaatkan pembebasan visa 30 hari yang ada bagi pemegang paspor Finlandia. Penasihat perdagangan juga merekomendasikan menyiapkan voucher pelatihan bahasa bagi insinyur China yang mungkin segera dapat tinggal lebih lama di Finlandia tanpa harus mengurus dokumen yang rumit.
Memandang ke Depan
Negosiator bertujuan menyelesaikan rancangan kesepakatan mobilitas bilateral sebelum Komisi Ekonomi Bersama China-Finlandia bertemu di Helsinki pada Juni 2026. Jika berhasil, Finlandia akan menjadi negara Nordik pertama yang mengamankan perjalanan bebas visa timbal balik yang sesungguhnya dengan China—memberikan keuntungan awal bagi eksportir Finlandia di pasar terbesar Asia.
Latar Belakang dan Konteks
Finlandia telah menikmati kebijakan bebas visa sepihak ke China sejak akhir 2023, dengan pembebasan visa saat ini berlaku hingga 31 Desember 2026. Kebijakan ini telah menghidupkan kembali arus perjalanan dua arah: menurut Visit Finland, kedatangan wisatawan China ke Finlandia naik 13 persen secara tahunan antara Januari dan September 2025, sementara maskapai Finlandia melaporkan tingkat keterisian kursi 85 persen pada rute Helsinki–Shanghai. Namun, kelompok bisnis mengatakan pertumbuhan terhambat karena tidak adanya pembebasan visa yang sepadan bagi eksekutif China yang menuju Finlandia untuk menyelesaikan kesepakatan.
Kesepakatan yang Dicapai
Di Beijing, Xi mengatakan China “siap menyambut lebih banyak teman Finlandia untuk merasakan China yang kuno sekaligus modern,” dan mendorong perusahaan Finlandia untuk “menyelam ke lautan luas pasar China.” Orpo, di sisi lain, mengundang delegasi China untuk mengeksplorasi proyek hidrogen Finlandia dan mengusulkan pembentukan kelompok kerja untuk mempelajari perjalanan singkat yang lebih mudah bagi teknisi China yang memasang peralatan di situs industri Finlandia. Kedua pemimpin menginstruksikan kementerian luar negeri mereka untuk memulai pembicaraan tentang fasilitasi visa jangka panjang secara timbal balik, dimulai dengan visa bisnis multi-masuk yang berlaku hingga lima tahun.
Implikasi Praktis
KTT ini mengirim sinyal jelas kepada perusahaan multinasional yang beroperasi di kedua negara. Perusahaan yang merencanakan siklus anggaran 2026 dapat mengharapkan proses izin yang lebih cepat untuk staf yang dipinjamkan dan harus menyiapkan kebijakan mobilitas internal yang memanfaatkan pembebasan visa 30 hari yang ada bagi pemegang paspor Finlandia. Penasihat perdagangan juga merekomendasikan menyiapkan voucher pelatihan bahasa bagi insinyur China yang mungkin segera dapat tinggal lebih lama di Finlandia tanpa harus mengurus dokumen yang rumit.
Memandang ke Depan
Negosiator bertujuan menyelesaikan rancangan kesepakatan mobilitas bilateral sebelum Komisi Ekonomi Bersama China-Finlandia bertemu di Helsinki pada Juni 2026. Jika berhasil, Finlandia akan menjadi negara Nordik pertama yang mengamankan perjalanan bebas visa timbal balik yang sesungguhnya dengan China—memberikan keuntungan awal bagi eksportir Finlandia di pasar terbesar Asia.
Sumber: People’s Daily (Xinhua dispatch)