
Kedutaan Besar AS di Islamabad menangguhkan semua wawancara visa imigran dan non-imigran yang dijadwalkan pada 9–13 Maret 2026, dengan alasan “pertimbangan keamanan dan operasional.” Para pemohon akan menerima email berisi petunjuk penjadwalan ulang, sementara layanan darurat dan layanan rutin bagi warga negara tetap tersedia. Operasi konsuler di kantor Karachi dan Lahore telah ditutup sejak Januari, sehingga Islamabad menampung sebagian besar permohonan visa. Kebijakan ini membuat ribuan pelancong bisnis Pakistan, pelajar, dan pemohon H-1B yang merencanakan perjalanan selama libur musim semi terjebak. Tim mobilitas perusahaan kini harus memutuskan apakah akan memesan slot terbatas di kantor negara ketiga seperti Abu Dhabi atau Bangkok—opsi yang mahal dan juga memerlukan visa transit—atau menunggu kapasitas baru di Islamabad yang bisa tertunda lebih lama jika ketegangan regional meningkat. Karena Pakistan termasuk dalam sepuluh negara sumber utama talenta F-1 dan H-1B yang menuju AS, pembekuan selama seminggu ini menimbulkan dampak besar bagi universitas dan perusahaan IT outsourcing yang berlomba-lomba mengajukan permohonan H-1B dalam jendela waktu 90 hari yang berakhir 1 Juli. Penasihat hukum menyarankan agar pemberi kerja menyiapkan aplikasi DS-160 ganda agar dapat segera memanfaatkan tanggal baru saat kedutaan membuka kembali jadwalnya. Penutupan yang didorong oleh alasan keamanan semakin sering terjadi di seluruh dunia: Departemen Luar Negeri mencatat 47 penutupan penuh atau sebagian unit visa pada 2025—lebih dari tiga kali lipat rata-rata tahunan sebelum pandemi. Manajer mobilitas disarankan menyiapkan anggaran darurat dan memastikan karyawan menggunakan paspor yang memenuhi syarat ESTA jika memungkinkan. Meskipun kedutaan tidak merinci ancaman, analis mencatat Islamabad pernah memberlakukan penangguhan serupa saat terjadi protes pada 2022 dan 2024. Para pelancong disarankan memantau akun @usembislamabad di X untuk pembaruan berikutnya yang diperkirakan keluar pada 12 Maret.
Sumber: Dunya News