
Otoritas Penerbangan Sipil dan tanggap darurat dikerahkan pada pukul 02:45 tanggal 12 Maret setelah dugaan drone Iran jatuh menabrak menara hunian Address Creek Harbour, memicu kebakaran kecil dan memaksa evakuasi puluhan keluarga. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, namun insiden ini—serangan drone kedua di Dubai dalam 24 jam—menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi ruang udara dan infrastruktur kritis UEA. Menurut Kantor Media Dubai, puing-puing berhasil dibersihkan dalam beberapa jam dan lalu lintas udara di Bandara Internasional Dubai (DXB) tetap ‘normal’, berkat sistem intersepsi berlapis dan jalur penerbangan darurat yang sudah direncanakan, yang mengarahkan kedatangan pesawat melewati Teluk sebelum berbelok ke daratan. Meski begitu, analis penerbangan memperingatkan bahwa serangan kecil sekalipun dapat memicu efek berantai seperti inspeksi landasan pacu, pola penahanan pengendalian lalu lintas udara, dan kenaikan premi asuransi. Bagi tim mobilitas global, insiden ini menegaskan pentingnya protokol pelacakan pelancong dan komunikasi krisis yang kuat. Karyawan yang dipindahkan dan tinggal di kawasan pesisir bertingkat tinggi disarankan untuk memahami instruksi berlindung di tempat dan memastikan aplikasi peringatan darurat pribadi aktif. Perusahaan juga dianjurkan meninjau kebijakan relokasi dengan memasukkan opsi tempat tinggal sementara yang lebih jauh dari target strategis selama masa ketegangan meningkat. Sejak 28 Februari, UEA telah mencegat atau mengatasi lebih dari 160 rudal balistik dan lebih dari 900 drone, menurut data resmi, namun serangan Kamis ini adalah yang pertama memaksa evakuasi hunian di pusat Dubai. Meskipun pihak berwenang menegaskan negara tetap aman bagi penduduk dan pengunjung, kejadian ini mungkin memengaruhi perhitungan asuransi operasi penerbangan dan dapat membuat beberapa maskapai asing memperpanjang penangguhan rute mereka.
Sumber: Khaleej Times