
Kementerian Luar Negeri Brasil mengonfirmasi pada Sabtu, 25 Juli 2026, bahwa mereka menolak permohonan visa dari dua pejabat politik senior Departemen Luar Negeri AS, Riley M. Barnes dan Samuel Samson. Menurut diplomat Brasil yang berbicara secara anonim, keduanya berencana terbang ke Brasília pekan depan untuk bertemu dengan kelompok masyarakat sipil yang meragukan keamanan mesin pemungutan suara elektronik Brasil menjelang pemilihan presiden 4 Oktober. Penolakan mendadak ini sangat tidak biasa: berdasarkan praktik lama, visa diplomatik jangka pendek jarang ditolak antara mitra dekat. Pejabat Brasil menyatakan langkah ini diperlukan untuk “melindungi kredibilitas sistem pemilihan kami” di tengah apa yang mereka sebut kampanye disinformasi asing yang terkoordinasi. Penolakan ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintahan Trump memberlakukan tarif tinggi berdasarkan Pasal 301 terhadap baja dan produk kedelai Brasil, yang semakin memperburuk hubungan bilateral. Bagi perusahaan multinasional, insiden ini menjadi pengingat bahwa otoritas konsuler Brasil akan menggunakan kebijakan luas ketika mereka menilai kepentingan keamanan nasional atau ketertiban umum terancam. Eksekutif dan staf teknis Amerika yang bepergian ke Brasil menjelang pemilihan harus mengantisipasi pemeriksaan visa yang lebih ketat—terutama jika jadwal perjalanan mencantumkan pertemuan atau acara politik. Perusahaan disarankan mengajukan permohonan jauh-jauh hari, memastikan surat undangan hanya menyebutkan tujuan komersial, dan siap menghadapi waktu proses yang lebih lama di Washington serta kantor Brasil di Miami, Houston, dan New York. Kejadian ini juga menyoroti semakin melebar jurang perbedaan antara Brasília dan Washington terkait norma demokrasi. Wisatawan AS yang secara terbuka meragukan infrastruktur pemilu Brasil bisa menghadapi penolakan masuk atau bahkan deportasi di bandara berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Migrasi Brasil, yang memungkinkan otoritas melarang orang asing yang dianggap mengancam “kepentingan nasional.” Tim manajemen risiko harus memberi pengarahan kepada pelancong tentang lingkungan hukum dan memperbarui protokol tanggap krisis untuk kemungkinan penolakan saat kedatangan. Ke depan, ketegangan politik diperkirakan meningkat seiring masa kampanye memasuki tahap akhir. Penolakan visa lebih lanjut—terutama yang melibatkan tokoh penting—bisa memicu tindakan balasan dari AS, seperti pembatasan penerbitan visa B-1/B-2 untuk pejabat Brasil. Perusahaan dengan operasi lintas negara disarankan memantau advis dari Itamaraty Brasil, Departemen Luar Negeri AS, dan asosiasi industri untuk mengantisipasi perubahan mendadak dalam persyaratan masuk atau layanan diplomatik.
Sumber: The Washington Post