
Pemeriksaan polisi yang diperintahkan pada penerbangan dari Spanyol berpotensi menimbulkan efek samping domestik yang tidak diinginkan: ketegangan tenaga kerja. Dalam pernyataan yang dikutip oleh serikat kepolisian Silp CGIL dan banyak dibagikan di media sosial Italia, para pemimpin serikat menyebut keputusan pemerintah sebagai “kebodohan yang berisiko membuat bandara kacau.” Mereka berargumen bahwa tidak ada tambahan staf atau anggaran lembur yang disediakan, namun petugas dipindahkan dari pos keamanan dan imigrasi ke operasi gerbang, sehingga sumber daya terbagi di puncak musim liburan. Silp CGIL menyatakan arus penumpang sudah mencapai rekor tertinggi—Fiumicino menangani 190.000 pelancong pada hari Jumat—dan memperingatkan bahwa penambahan pemeriksaan dokumen manual tanpa penambahan staf akan menciptakan antrean panjang tanpa akhir, yang membahayakan keamanan dan hak penumpang. Serikat mengancam akan melakukan serangkaian “mogok peringatan” jika Kementerian Dalam Negeri tidak membuka negosiasi terkait staf dan protokol keselamatan. Bagi perusahaan yang memindahkan personel melalui hub Italia, perselisihan ini menambah variabel baru: meskipun pemeriksaan paspor berjalan lancar, aksi mogok bisa mengganggu penerbangan tanpa pemberitahuan. Manajer mobilitas disarankan untuk memantau NOTAM dan peringatan maskapai, memesan tiket fleksibel, serta menyarankan penumpang datang lebih awal dari biasanya. Perencanaan darurat harus mencakup pengalihan rute melalui Prancis atau Jerman jika kapasitas bandara Italia menurun drastis. Dari sudut pandang kebijakan, penolakan serikat ini menyoroti batas operasional dari langkah-langkah perbatasan yang bersifat sementara. Tanpa rencana staf yang berkelanjutan, Italia mungkin kesulitan mempertahankan pemeriksaan selama sebulan penuh—atau harus mengecualikan bandara atau waktu tertentu, yang menciptakan ketidakkonsistenan yang dikecam oleh maskapai.