Rezim Bebas Visa Baru Turki Picu Gelombang Pemesanan dari Tiongkok
Hong Kong Catat 950.000 Kedatangan selama Akhir Pekan Tahun Baru, Kunjungan Wisatawan dari Daratan Tiongkok Naik 48%
Pergerakan Lintas Batas melalui Hong Kong Capai 3,2 Juta dalam Tiga Hari—85% dari Volume Tahun 2019
Berita Terbaru
Makau Tutup 2025 dengan Rekor 40,06 Juta Pengunjung; Kedatangan dari Daratan Jadi Pendorong Utama Ledakan Wisata
Data resmi yang dirilis pada 6 Januari menunjukkan Macau menarik 40,06 juta pengunjung pada tahun 2025, angka tertinggi sepanjang sejarah. Total penyeberangan perbatasan mencapai 235 juta, dengan lalu lintas Tahun Baru saja melampaui 860.000 dalam satu hari. Wisatawan dan pelaku bisnis dari Tiongkok daratan menjadi pendorong utama, mendorong kenaikan tarif hotel dan lonjakan pendapatan perjudian sebesar 9%. Perencana mobilitas harus mengantisipasi ketersediaan hotel yang terbatas dan pos pemeriksaan yang padat selama liburan mendatang.
Air China Kurangi Kepemilikan Minoritas di Cathay Pacific tapi Janji Kemitraan Jangka Panjang
Air China telah menjual 1,61% saham Cathay Pacific senilai US$170 juta, namun tetap menjadi pemegang saham terbesar kedua maskapai Hong Kong tersebut dengan hampir 30% setelah rencana pembelian kembali saham. Cathay menegaskan bahwa kerja sama strategis untuk rute daratan tetap berjalan dan berencana mengembalikan kapasitas hingga 90% dari masa sebelum Covid pada akhir 2026. Manajer mobilitas harus bersiap menghadapi lebih banyak penerbangan—meski kemungkinan dengan tarif yang lebih stabil—di rute utama Hong Kong-China.
Filipina Bantah Rumor Media Sosial Soal Bebas Visa untuk Warga Tiongkok
Pada 6 Januari, Kementerian Luar Negeri Filipina dengan tegas membantah klaim viral bahwa warga negara China kini dapat berkunjung tanpa visa, menegaskan bahwa aturan visa yang berlaku—termasuk e-Visa 14 hari dan pengecualian tur kelompok selama tujuh hari—tetap diberlakukan. Perusahaan disarankan untuk memantau saluran resmi Kementerian Luar Negeri dan mengingatkan para pelancong agar tidak terpengaruh oleh rumor di media sosial.
Liburan Tahun Baru 2026 di China Pecahkan Rekor Mobilitas dengan 6,6 Juta Penyeberangan Perbatasan dan 142 Juta Perjalanan Domestik
Data resmi yang dirilis pada 5 Januari menunjukkan China mencatat 6,6 juta perjalanan lintas batas dan 142 juta perjalanan domestik selama libur Tahun Baru tiga hari, dengan kedatangan bebas visa meningkat 35,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa perluasan kebijakan bebas visa dan transit tanpa visa baru-baru ini benar-benar mendorong arus wisatawan, menandakan kepada perusahaan bahwa China kembali terbuka untuk perjalanan bisnis dengan volume tinggi dan penugasan jangka pendek.
Hong Kong catat 5,4 juta perjalanan terkait daratan selama liburan Tahun Baru, menandakan kebangkitan Kawasan Teluk Besar
Hong Kong mencatat 5,4 juta pergerakan penumpang lintas batas selama periode 31 Desember hingga 4 Januari, termasuk 742.000 kedatangan dari daratan utama. Lonjakan ini menunjukkan pemulihan kuat mobilitas di Kawasan Teluk Besar, memberikan fleksibilitas lebih bagi pelaku bisnis, namun juga mengindikasikan potensi kemacetan saat puncak perayaan Tahun Baru Imlek mendatang.
Cuaca dan kemacetan pasca-liburan sebabkan lebih dari 600 penerbangan tertunda di pusat-pusat utama China
Pada 5 Januari, setidaknya 44 penerbangan dibatalkan dan 583 penerbangan mengalami keterlambatan di bandara tersibuk di Tiongkok, dengan Beijing, Shanghai, dan Chengdu menjadi yang paling terdampak. Gangguan ini—disebabkan oleh cuaca musim dingin dan penataan ulang pesawat setelah lonjakan liburan—menunjukkan pentingnya perusahaan untuk memasukkan waktu dan biaya cadangan dalam rencana perjalanan awal tahun mereka.
Beijing keluarkan pembaruan keamanan terbaru terkait Venezuela; perusahaan diminta tinjau ulang tanggung jawab perlindungan karyawan China di Amerika Selatan
Dalam konferensi pers pada 5 Januari, Kementerian Luar Negeri China kembali mengimbau warganya untuk menghindari perjalanan ke Venezuela di tengah meningkatnya konflik pasca serangan AS. Perusahaan yang memiliki karyawan asal China di negara tersebut disarankan untuk mengaktifkan sistem pelacakan dan rencana darurat serta menunda perjalanan yang tidak mendesak.