
Kementerian Luar Negeri China telah memberlakukan sanksi terhadap anggota Dewan Perwakilan Jepang, Keiji Furuya, dengan mengumumkan pada 30 Maret bahwa ia dilarang menerima visa China atau memasuki wilayah mana pun di negara tersebut—termasuk wilayah administratif khusus Hong Kong dan Makau. Langkah ini merupakan respons atas apa yang disebut Beijing sebagai ‘kolusi berulang dengan kekuatan kemerdekaan Taiwan’ oleh anggota parlemen tersebut. Meskipun sanksi ini ditujukan pada individu, keputusan ini menyoroti garis patahan geopolitik yang dapat tiba-tiba membatasi mobilitas tokoh bisnis dan politik di kawasan ini. Eksekutif Jepang yang bepergian bersama delegasi parlemen, atau yang bergantung pada dukungan politik tingkat tinggi untuk pembicaraan akses pasar di Hong Kong, kini mungkin menghadapi pengawasan yang lebih ketat. Insiden ini mengikuti serangkaian penolakan visa balasan pada tahun 2025, ketika anggota Parlemen Eropa dan Australia juga masuk daftar hitam serupa. Sebagian besar pengunjung bisnis dari Jepang tidak akan mengalami perubahan langsung, namun tim risiko harus mencatat bahwa daftar sanksi Beijing dapat diperluas tanpa pemberitahuan. Para praktisi menyarankan untuk memantau buletin resmi berbahasa China guna mengidentifikasi individu yang baru ditetapkan lebih awal dan menyesuaikan susunan pertemuan atau pembicara utama sesuai kebutuhan. Perusahaan yang mempekerjakan warga Jepang yang sering mendampingi delegasi VIP harus memastikan rencana darurat—seperti alternatif lokasi konferensi di Singapura—telah disiapkan. Kejadian ini juga menegaskan peran Hong Kong dalam alat kebijakan luar negeri China: meskipun kota ini memiliki peraturan imigrasi sendiri, Beijing dapat dan memang mengarahkan larangan yang mengesampingkan kebijakan visa lokal ketika isu keamanan nasional atau hubungan luar negeri diangkat. Penyedia layanan mobilitas yang menjalankan program ‘rotasi kantor pusat Asia’ sebaiknya meninjau kembali asumsi bahwa Hong Kong menawarkan akses netral yang dijamin bagi eksekutif global. Kamar dagang Jepang di Hong Kong telah mendesak kedua pemerintah untuk menjaga jalur perjalanan tetap terbuka dan menghindari langkah yang dapat mengganggu pemulihan perdagangan bilateral pasca pandemi, yang tumbuh 8 persen secara tahunan pada 2025.
Sumber: People’s Daily