
Uni Emirat Arab (UEA) menambah satu negara lagi ke daftar mitra bebas visa yang terus berkembang pesat. Pada 30 Mei 2026, Menteri Negara Sheikh Shakhboot bin Nahyan Al Nahyan dan Menteri Dalam Negeri Eswatini, Putri Lindiwe, menandatangani nota kesepahaman di Abu Dhabi yang menghapus persyaratan visa masuk bagi pemegang paspor biasa, diplomatik, dan dinas dari kedua negara. Kesepakatan ini akan mulai berlaku 30 hari setelah pertukaran nota diplomatik yang mengonfirmasi bahwa semua prosedur internal telah selesai.
Meskipun Eswatini adalah kerajaan kecil tanpa akses laut di Afrika selatan, kesepakatan ini memiliki makna strategis bagi kedua pihak. Bagi UEA, ini memperluas jangkauan paspor mereka yang sudah diakui dunia dan menegaskan strategi Afrika yang lebih luas, yang sebelumnya sudah mencakup pembebasan visa dengan Botswana, Afrika Selatan, Kenya, dan Seychelles. Bagi Eswatini, penghapusan biaya visa yang bisa mencapai lebih dari US$150 per pelancong, menghilangkan waktu proses yang sering memakan waktu hingga dua minggu, serta membuka peluang baru untuk perdagangan, pariwisata medis, dan hubungan pendidikan melalui jaringan Emirates dan Etihad.
Bagi manajer mobilitas, pembebasan visa ini langsung mempermudah perencanaan penugasan jangka pendek. Misalnya, teknisi Emirat yang memasang peralatan telekomunikasi untuk Eswatini Mobile kini bisa naik pesawat hanya dengan paspor dan bukti vaksinasi. Sebaliknya, eksekutif agribisnis Eswatini yang menjajaki saluran distribusi di Teluk kini dapat menjadwalkan pertemuan berturut-turut di Dubai dan Abu Dhabi tanpa harus menunggu persetujuan visa. Kegiatan kerja jangka panjang tetap harus mengikuti proses izin kerja dan tinggal di masing-masing negara, namun penghematan biaya, kepatuhan, dan waktu tunggu untuk perjalanan eksplorasi sangat signifikan.
UEA terus memanfaatkan diplomasi visa sebagai alat kekuatan lunak untuk memperkuat hubungan politik dan memposisikan diri sebagai pusat global. Menurut Henley Passport Index, paspor Emirat telah menambah 149 destinasi bebas visa atau visa saat kedatangan sejak 2006—lebih banyak daripada negara lain manapun. Kesepakatan dengan Eswatini ini menunjukkan kemungkinan adanya perjanjian Afrika lainnya yang akan memperkuat upaya UEA menjadi tujuan transit utama Timur Tengah bagi pasar keluar Afrika yang sedang berkembang pesat.
Tim perjalanan korporat disarankan segera memperbarui sistem pemesanan: setelah pembebasan visa ini diratifikasi, setiap peringatan otomatis untuk mengurus visa kunjungan UEA bagi warga Eswatini—atau sebaliknya—akan menimbulkan biaya yang tidak perlu. Para pelancong tetap harus membawa bukti dana yang cukup, tiket pulang/pergi, dan paspor dengan masa berlaku minimal enam bulan untuk menghindari penolakan sepihak di perbatasan.
Meskipun Eswatini adalah kerajaan kecil tanpa akses laut di Afrika selatan, kesepakatan ini memiliki makna strategis bagi kedua pihak. Bagi UEA, ini memperluas jangkauan paspor mereka yang sudah diakui dunia dan menegaskan strategi Afrika yang lebih luas, yang sebelumnya sudah mencakup pembebasan visa dengan Botswana, Afrika Selatan, Kenya, dan Seychelles. Bagi Eswatini, penghapusan biaya visa yang bisa mencapai lebih dari US$150 per pelancong, menghilangkan waktu proses yang sering memakan waktu hingga dua minggu, serta membuka peluang baru untuk perdagangan, pariwisata medis, dan hubungan pendidikan melalui jaringan Emirates dan Etihad.
Bagi manajer mobilitas, pembebasan visa ini langsung mempermudah perencanaan penugasan jangka pendek. Misalnya, teknisi Emirat yang memasang peralatan telekomunikasi untuk Eswatini Mobile kini bisa naik pesawat hanya dengan paspor dan bukti vaksinasi. Sebaliknya, eksekutif agribisnis Eswatini yang menjajaki saluran distribusi di Teluk kini dapat menjadwalkan pertemuan berturut-turut di Dubai dan Abu Dhabi tanpa harus menunggu persetujuan visa. Kegiatan kerja jangka panjang tetap harus mengikuti proses izin kerja dan tinggal di masing-masing negara, namun penghematan biaya, kepatuhan, dan waktu tunggu untuk perjalanan eksplorasi sangat signifikan.
UEA terus memanfaatkan diplomasi visa sebagai alat kekuatan lunak untuk memperkuat hubungan politik dan memposisikan diri sebagai pusat global. Menurut Henley Passport Index, paspor Emirat telah menambah 149 destinasi bebas visa atau visa saat kedatangan sejak 2006—lebih banyak daripada negara lain manapun. Kesepakatan dengan Eswatini ini menunjukkan kemungkinan adanya perjanjian Afrika lainnya yang akan memperkuat upaya UEA menjadi tujuan transit utama Timur Tengah bagi pasar keluar Afrika yang sedang berkembang pesat.
Tim perjalanan korporat disarankan segera memperbarui sistem pemesanan: setelah pembebasan visa ini diratifikasi, setiap peringatan otomatis untuk mengurus visa kunjungan UEA bagi warga Eswatini—atau sebaliknya—akan menimbulkan biaya yang tidak perlu. Para pelancong tetap harus membawa bukti dana yang cukup, tiket pulang/pergi, dan paspor dengan masa berlaku minimal enam bulan untuk menghindari penolakan sepihak di perbatasan.
Sumber: Khaleej Times