
Dengan rupiah India yang tetap kuat terhadap beberapa mata uang pasar berkembang dan semakin banyak negara yang menambahkan warga India ke dalam skema e-visa atau visa saat kedatangan, perencana perjalanan melihat lonjakan permintaan untuk liburan musim panas non-tradisional seperti Kirgistan, Georgia, dan Laos. Sebuah artikel Financial Express tanggal 13 Juni mengutip operator tur terkemuka Thomas Cook India dan SOTC yang mencatat pertumbuhan dua digit dalam pemesanan ke Asia Tengah karena para pelancong mencari pemandangan ala Swiss dengan biaya setengahnya. E-visa Kirgistan selama 60 hari (biaya sekitar ₹2.800) dan tarif pulang-pergi Delhi-Bishkek mulai dari ₹28.000 menjadikan negara pegunungan ini alternatif hemat dibanding Eropa di tengah antrean visa Schengen yang panjang. E-visa Georgia seharga €20, biasanya disetujui dalam kurang dari 10 hari, dan homestay di Tbilisi dengan biaya $20 per hari semakin menambah daya tarik. Laos, yang bisa diakses dengan visa saat kedatangan seharga $40, memposisikan diri sebagai pilihan yang lebih tenang dan murah dibandingkan destinasi pantai di Thailand setelah Thailand memberlakukan kembali biaya visa saat kedatangan. Bagi tim mobilitas korporat yang mengelola perjalanan insentif dan acara luar kantor, tren ini memperluas pilihan destinasi sekaligus menekan anggaran per orang. Vendor menawarkan retret yurt di Kirgistan dan residensi di kebun anggur Georgia sebagai alternatif dari tempat konferensi Eropa yang penuh pemesanan. Tantangannya: keterbatasan jalur penerbangan langsung membuat rute perjalanan lebih panjang, dan polis asuransi perjalanan harus diperiksa untuk cakupan petualangan di ketinggian. Dinamika mata uang menjadi pendorong utama: rupiah menguat 6-8% terhadap som Kirgistan dan lari Georgia sejak Januari, sehingga mengurangi biaya di lokasi. Secara bersamaan, data Henley Passport Index menunjukkan jumlah negara yang memberikan visa bebas atau e-visa bagi warga India meningkat melewati 55 destinasi, memudahkan perencanaan perjalanan spontan. Para analis mengingatkan bahwa infrastruktur di beberapa pasar ini—terutama pemandu berbahasa Inggris dan ketersediaan makanan vegetarian—masih tertinggal dibanding pusat wisata utama. Manajer perjalanan disarankan bekerja sama dengan penyedia layanan lokal yang memahami kebutuhan kelompok India dan memastikan persetujuan e-visa dicetak dan dibawa, karena beberapa pos perbatasan Asia Tengah tidak memiliki akses database langsung.
Sumber: Financial Express