
Sebuah laporan dramatis dari Associated Press yang diterbitkan pada 29 Juni mengisahkan bagaimana aktivis veteran daratan Tiongkok, Dong Guangping, melarikan diri dari Tiongkok menggunakan perahu karet, sempat ditahan singkat di Korea Selatan karena pelanggaran imigrasi, dan akhirnya dipindahkan ke Kanada dengan bantuan UNHCR—semua ini terjadi sambil memberikan wawancara kepada jurnalis Hong Kong. Kisah Dong menyoroti kompleksitas pengendalian keluar, penentuan status pengungsi, dan koridor kemanusiaan yang berhubungan dengan jaringan media dan LSM di Hong Kong. Setelah tiga kali gagal melarikan diri dan beberapa kali dipenjara, pria berusia 68 tahun ini berangkat dari Weihai pada 24 Mei, beralih ke Korea Selatan saat baterai ponselnya habis, dan berkat koordinasi antara Seoul, Ottawa, dan PBB, tiba di Toronto pada 27 Juni. Meskipun Dong tidak melewati Hong Kong secara fisik, peran kota ini sebagai pusat pers regional membuat detail perjalanannya cepat tersebar melalui media berbasis Hong Kong, memicu perdebatan publik tentang opsi jalur aman bagi pembangkang dan batasan kebijakan izin keluar daratan Tiongkok. Pengacara imigrasi di Hong Kong mencatat meningkatnya jumlah permintaan dari aktivis Tiongkok yang mencari jalur ke negara ketiga, sering melalui visa kemanusiaan di Kanada, jalur BNO Inggris, atau visa perlindungan Australia. Bagi perusahaan global yang mengelola talenta di Hong Kong dan daratan, episode ini menjadi pengingat pentingnya menyiapkan rencana darurat untuk staf yang rentan secara politik, termasuk dokumen perjalanan darurat, pengaturan penggajian di negara ketiga, dan layanan dukungan trauma. Hal ini juga menegaskan pentingnya memantau bagaimana pemerintah berkoordinasi dalam migrasi tidak teratur dan pemukiman kembali pengungsi—proses yang dapat langsung memengaruhi mobilitas karyawan dan kewajiban perlindungan mereka.