
Pemerintah koalisi sayap kanan Helsinki terus melanjutkan reformasi paling ketat dalam dua dekade terakhir terhadap kerangka imigrasi Finlandia. Data terbaru yang dirilis pada 1 November 2025 menunjukkan bahwa 2.070 warga negara asing telah dideportasi dari negara ini antara Januari hingga September—kenaikan 30 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Menteri Dalam Negeri Mari Rantanen menyebut perubahan ini sebagai “pergeseran paradigma” yang bertujuan menyelaraskan Finlandia dengan standar Nordik yang lebih ketat terkait suaka dan izin tinggal.
Fokus utama pengetatan ini adalah paket amandemen Undang-Undang Orang Asing yang disahkan awal tahun ini. Langkah-langkah kunci meliputi: peningkatan ambang pendapatan untuk banyak kategori izin tinggal; batas larangan masuk selama 15 tahun (naik dari lima tahun) bagi warga negara ketiga; perluasan kewenangan polisi untuk memeriksa status tinggal; serta percepatan deportasi bagi mereka yang melebihi masa visa atau pengajuan suaka ditolak. Aturan baru juga melarang migran tanpa dokumen beralih ke izin kerja selama berada di Finlandia—perubahan yang memaksa banyak pencari kerja meninggalkan wilayah Schengen dan mengajukan permohonan ulang dari luar negeri.
Sikap yang lebih tegas ini sudah mulai mengubah kehidupan sehari-hari. Di Toivon talo (“Rumah Harapan”), sebuah pusat harian di Helsinki yang dijalankan oleh relawan gereja, staf melaporkan lonjakan pengunjung yang ketakutan akan deportasi. Sebagian besar adalah pria dari Maroko, Somalia, dan Irak, namun pusat ini juga menerima keluarga dengan anak-anak serta korban perdagangan manusia yang mencari bantuan hukum mendesak. Kelompok advokasi memperingatkan bahwa deportasi massal berisiko mengirim orang rentan kembali ke zona penganiayaan dan dapat mendorong lebih banyak migran bekerja secara ilegal.
Pejabat pemerintah menegaskan bahwa Finlandia tetap terbuka untuk imigrasi kerja “yang sah” dan berargumen bahwa penyaringan yang lebih ketat akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem. Para pengusaha di sektor teknologi dan perawatan mengatakan pesan kepada calon pekerja kini jelas: datanglah dengan tawaran pekerjaan, dana yang cukup, dan dokumen lengkap—jika tidak, masuk akan ditolak.
Bagi perusahaan multinasional dan manajer mobilitas global, perubahan ini berarti biaya kepatuhan yang lebih tinggi dan waktu proses yang lebih lama. Tim HR harus memastikan bahwa karyawan baru memenuhi ambang pendapatan yang direvisi (EUR 1.600 per bulan untuk sebagian besar karyawan dan EUR 800 per bulan untuk pelajar) serta siap menghadapi pengawasan ketat pasca-keputusan oleh Migri, Layanan Imigrasi Finlandia. Perusahaan yang mengandalkan staf musiman atau berbasis proyek menghadapi beban tambahan untuk memastikan pekerja dapat kembali ke Finlandia setelah perjalanan visa, dan mungkin perlu menganggarkan biaya banding awal jika izin ditolak. Meski mendapat kritik dari LSM hak asasi manusia, pemerintah Orpo tidak menunjukkan tanda-tanda akan melonggarkan kebijakan—artinya penegakan ketat kemungkinan akan menjadi norma baru sepanjang 2026.
Fokus utama pengetatan ini adalah paket amandemen Undang-Undang Orang Asing yang disahkan awal tahun ini. Langkah-langkah kunci meliputi: peningkatan ambang pendapatan untuk banyak kategori izin tinggal; batas larangan masuk selama 15 tahun (naik dari lima tahun) bagi warga negara ketiga; perluasan kewenangan polisi untuk memeriksa status tinggal; serta percepatan deportasi bagi mereka yang melebihi masa visa atau pengajuan suaka ditolak. Aturan baru juga melarang migran tanpa dokumen beralih ke izin kerja selama berada di Finlandia—perubahan yang memaksa banyak pencari kerja meninggalkan wilayah Schengen dan mengajukan permohonan ulang dari luar negeri.
Sikap yang lebih tegas ini sudah mulai mengubah kehidupan sehari-hari. Di Toivon talo (“Rumah Harapan”), sebuah pusat harian di Helsinki yang dijalankan oleh relawan gereja, staf melaporkan lonjakan pengunjung yang ketakutan akan deportasi. Sebagian besar adalah pria dari Maroko, Somalia, dan Irak, namun pusat ini juga menerima keluarga dengan anak-anak serta korban perdagangan manusia yang mencari bantuan hukum mendesak. Kelompok advokasi memperingatkan bahwa deportasi massal berisiko mengirim orang rentan kembali ke zona penganiayaan dan dapat mendorong lebih banyak migran bekerja secara ilegal.
Pejabat pemerintah menegaskan bahwa Finlandia tetap terbuka untuk imigrasi kerja “yang sah” dan berargumen bahwa penyaringan yang lebih ketat akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem. Para pengusaha di sektor teknologi dan perawatan mengatakan pesan kepada calon pekerja kini jelas: datanglah dengan tawaran pekerjaan, dana yang cukup, dan dokumen lengkap—jika tidak, masuk akan ditolak.
Bagi perusahaan multinasional dan manajer mobilitas global, perubahan ini berarti biaya kepatuhan yang lebih tinggi dan waktu proses yang lebih lama. Tim HR harus memastikan bahwa karyawan baru memenuhi ambang pendapatan yang direvisi (EUR 1.600 per bulan untuk sebagian besar karyawan dan EUR 800 per bulan untuk pelajar) serta siap menghadapi pengawasan ketat pasca-keputusan oleh Migri, Layanan Imigrasi Finlandia. Perusahaan yang mengandalkan staf musiman atau berbasis proyek menghadapi beban tambahan untuk memastikan pekerja dapat kembali ke Finlandia setelah perjalanan visa, dan mungkin perlu menganggarkan biaya banding awal jika izin ditolak. Meski mendapat kritik dari LSM hak asasi manusia, pemerintah Orpo tidak menunjukkan tanda-tanda akan melonggarkan kebijakan—artinya penegakan ketat kemungkinan akan menjadi norma baru sepanjang 2026.
Sumber: AFP via Arab News