
Penerapan aturan migrasi pasca-pandemi yang paling ketat di Spanyol kini berlangsung di El Hierro. Pada 26 Juni, Hakim Mazuecos mengizinkan pemindahan 85 dari 119 orang yang diselamatkan dari cayuco yang diluncurkan dari Gambia awal pekan ini ke pusat penahanan imigrasi di daratan utama sambil menunggu proses deportasi. Ini merupakan perintah penahanan tunggal terbesar yang dikeluarkan di Kepulauan Canary sejak Uni Eropa menyetujui Pakta Migrasi dan Suaka baru. Menurut hukum Spanyol, kedatangan tidak resmi dapat ditahan oleh polisi hingga 72 jam; setelah itu hakim harus memutuskan antara pembebasan, izin kemanusiaan, atau penahanan di CIE hingga 60 hari. Dengan menyetujui pemindahan ini, pengadilan menunjukkan sikap lebih tegas yang bertujuan mempercepat pengembalian ke negara asal—dalam kasus ini Gambia, Guinea, Senegal, Mali, dan Côte d’Ivoire. Bagi tim mobilitas global yang memindahkan staf ke Kepulauan Canary, putusan ini mengingatkan bahwa pengawasan hotel dan keamanan pelabuhan diperketat setiap kali terjadi kedatangan laut dalam jumlah besar. Operator penerbangan charter juga melaporkan penyesuaian slot karena sumber daya Guardia Civil dialihkan. Para pemberi kerja disarankan memantau peringatan lokal untuk menghindari perubahan jadwal mendadak. LSM hak asasi manusia memperingatkan bahwa penahanan massal berisiko melanggar standar UE jika negara asal terlambat mengeluarkan dokumen laissez-passer, yang dapat menyebabkan kepadatan di CIE. Perencana perjalanan bisnis harus siap menghadapi kemungkinan protes atau gangguan transportasi di sekitar fasilitas di Algeciras atau Madrid tempat para migran mungkin dikirim. Meskipun kasus ini berkaitan dengan migrasi kemanusiaan, bukan mobilitas tenaga ahli, hal ini menegaskan pendekatan ganda Spanyol: visa yang dipermudah untuk talenta di satu sisi dan penegakan perbatasan yang ketat di sisi lain.
Sumber: elDiario.es