
Selimut kabut pagi hari di Rio de Janeiro pada 3 Juli menutup landasan pacu Galeão selama 90 menit dan menghambat operasi di Santos Dumont, memicu efek domino yang berlanjut hingga 4 Juli. Data pelacakan penerbangan real-time yang dianalisis oleh The Traveler menunjukkan lebih dari 240 pembatalan dan ratusan keterlambatan yang menyebar ke São Paulo, Brasília, dan Belo Horizonte karena pesawat dan kru keluar dari jadwal rotasi. Bandara metropolitan Brasil beroperasi hampir penuh selama jam sibuk, sehingga sedikit ruang untuk mengatasi penurunan kapasitas landasan akibat cuaca. Program penundaan darat yang diterapkan untuk mengelola lonjakan ini memaksa maskapai memprioritaskan rute utama dan membatalkan rute regional dengan pendapatan rendah, membuat ribuan penumpang terdampar dan pesawat tersebar di seluruh jaringan. Tekanan infrastruktur memperparah dampak cuaca. Pemberitahuan manajemen lalu lintas udara menunjukkan pengetatan slot di sekitar Guarulhos, sementara maskapai menghadapi keterbatasan armada jangka panjang akibat kekurangan suku cadang global dan inspeksi mesin Pratt & Whitney. LATAM sudah memangkas kapasitas Juli sebesar 3% untuk menjaga ketepatan waktu; pesaing GOL dan Azul mengalihkan pesawat cadangan 737 dan E190, namun integritas jadwal tetap turun di bawah 70% pada 4 Juli. Bagi pelancong bisnis, dampak praktisnya adalah hari perjalanan yang lebih panjang dan risiko kehilangan koneksi yang meningkat. Spesialis duty-of-care menyarankan penumpang menambah waktu cadangan koneksi, memilih keberangkatan gelombang pertama jika memungkinkan, dan membawa perlengkapan menginap di bagasi kabin. Perusahaan dengan proyek sensitif waktu disarankan memeriksa posisi kru dan peralatan 24 jam sebelumnya serta mempertimbangkan klausul asuransi perjalanan yang mencakup koneksi lanjutan yang terlewat. Ahli meteorologi memperingatkan anomali terkait El Niño dapat memperpanjang episode kabut di bandara pesisir hingga Agustus. Operator bandara mempercepat investasi alat bantu pendaratan dalam kondisi visibilitas rendah, namun implementasi baru akan selesai pada 2027, sehingga puncak musim dingin Brasil masih rentan terhadap gangguan lebih lanjut.
Sumber: The Traveler