
Parlemen Jerman kembali mengkaji komitmen internasional negara tersebut terkait migrasi. Dalam pertanyaan tertulis yang diajukan pada 13 Juli, kelompok parlemen AfD meminta Pemerintah Federal untuk menjelaskan posisinya pada Forum Tinjauan Migrasi Internasional kedua (IMRF) yang akan digelar Mei 2026, serta janji baru apa pun yang ditawarkan untuk memodernisasi Pakta Global PBB 2018 tentang Migrasi Aman, Tertib, dan Teratur. Pertanyaan ini—tercatat sebagai Drucksache 21/7024—meminta rincian kontribusi keuangan tambahan, target demografis, implikasi hukum terhadap undang-undang imigrasi nasional, dan koordinasi yang direncanakan dengan Uni Eropa. Selain itu, juga diminta penilaian dampak terhadap permintaan pasar tenaga kerja dan biaya jaminan sosial jika Jerman memperluas jalur migrasi reguler.
Pemerintah koalisi sejauh ini memandang Pakta tersebut sebagai kerangka kerja yang tidak mengikat dan melengkapi, bukan menggantikan, undang-undang domestik seperti Undang-Undang Imigrasi Terampil. Delegasi Berlin di New York mendukung peningkatan pengumpulan data dan platform visa digital, namun tidak memberikan komitmen kuota numerik. Meski demikian, anggota parlemen oposisi khawatir norma hukum lunak ini dapat memengaruhi pengadilan Jerman dan mendorong pergerakan migrasi tidak teratur.
Bagi HR perusahaan, perdebatan ini penting karena elemen Pakta—seperti percepatan reunifikasi keluarga atau kemitraan keterampilan dengan negara berkembang—berdampak langsung pada waktu proses visa kerja dan jalur talenta. Permintaan parlemen untuk perhitungan biaya yang ketat atau batas kuota bisa memperlambat amandemen Undang-Undang Tinggal yang dijadwalkan Oktober nanti. Komite Dalam Negeri dan Urusan Luar Negeri memiliki waktu 14 hari untuk menjadwalkan sidang tanggapan. Perusahaan multinasional sebaiknya memantau perkembangan ini: jika anggota parlemen mendorong interpretasi yang lebih ketat, proses aplikasi ICT dan Kartu Biru UE mungkin akan menghadapi pengawasan tambahan.
Pemerintah koalisi sejauh ini memandang Pakta tersebut sebagai kerangka kerja yang tidak mengikat dan melengkapi, bukan menggantikan, undang-undang domestik seperti Undang-Undang Imigrasi Terampil. Delegasi Berlin di New York mendukung peningkatan pengumpulan data dan platform visa digital, namun tidak memberikan komitmen kuota numerik. Meski demikian, anggota parlemen oposisi khawatir norma hukum lunak ini dapat memengaruhi pengadilan Jerman dan mendorong pergerakan migrasi tidak teratur.
Bagi HR perusahaan, perdebatan ini penting karena elemen Pakta—seperti percepatan reunifikasi keluarga atau kemitraan keterampilan dengan negara berkembang—berdampak langsung pada waktu proses visa kerja dan jalur talenta. Permintaan parlemen untuk perhitungan biaya yang ketat atau batas kuota bisa memperlambat amandemen Undang-Undang Tinggal yang dijadwalkan Oktober nanti. Komite Dalam Negeri dan Urusan Luar Negeri memiliki waktu 14 hari untuk menjadwalkan sidang tanggapan. Perusahaan multinasional sebaiknya memantau perkembangan ini: jika anggota parlemen mendorong interpretasi yang lebih ketat, proses aplikasi ICT dan Kartu Biru UE mungkin akan menghadapi pengawasan tambahan.
Sumber: Bundestag – hib Kurzmeldung