
Konsulat Jenderal Kerajaan Denmark di Dubai mengeluarkan peringatan tegas setelah menemukan lonjakan dokumen pendukung palsu dalam permohonan visa Schengen dari warga yang berdomisili di UEA. Wakil Kepala Misi, Hanne-Rie Madsen, kepada The National menyatakan bahwa staf konsuler kini menolak sekitar sepuluh permohonan setiap hari kerja karena tiket pesawat, pemesanan hotel, atau sertifikat asuransi perjalanan medis yang dipalsukan atau dimanipulasi. Tren ini dipicu oleh lonjakan perjalanan musim panas dan kekurangan slot janji temu di beberapa misi Eropa, yang disebabkan oleh pengurangan staf sejak konflik Iran-Gulf meningkat awal tahun ini.
Pejabat konsuler mengatakan banyak pemohon mengandalkan “visa fixer” tanpa izin yang menjanjikan hasil cepat dengan biaya tinggi; perantara ini sering menyediakan tiket palsu yang tampak asli tapi tidak bisa digunakan, kode QR yang mengarah ke reservasi hotel yang dibatalkan, atau polis asuransi atas nama orang lain. Berdasarkan aturan UE, pengajuan satu dokumen palsu saja langsung berujung penolakan — dan dalam kasus serius, bisa menyebabkan larangan masuk selama bertahun-tahun ke 29 negara Schengen.
Postingan Facebook konsulat minggu ini mengimbau para pelancong untuk membuat pemesanan yang bisa dibatalkan sendiri dan memeriksa setiap halaman dokumen akhir, dengan penekanan bahwa “agen tidak bertanggung jawab – pemohon yang bertanggung jawab.” Agen perjalanan yang diwawancarai The National menyebut permintaan tiket palsu melonjak karena banyak warga Teluk tidak berani membayar tiket non-refundable sebelum visa keluar. Namun, tingkat penolakan berkas dengan reservasi palsu dilaporkan lebih dari 80 persen, menjadikan “solusi” jangka pendek ini justru memperparah antrean janji temu.
Penyedia layanan resmi VFS Global menegaskan tidak menjual atau memesan slot janji temu dan mengingatkan pelanggan akan kampanye #DoNotFallForFraud. Bagi pelaku bisnis dan manajer mobilitas korporat, kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa risiko kepatuhan visa melampaui denda imigrasi. Satu pernyataan palsu bisa menggagalkan kesepakatan penting, merusak profil perjalanan internasional karyawan, dan membahayakan reputasi perusahaan. Perusahaan disarankan mengaudit agen visa eksternal, menginstruksikan karyawan membeli tiket yang bisa dikembalikan, dan menyiapkan waktu persiapan lebih lama untuk perjalanan ke Eropa sampai kapasitas konsuler kembali normal.
Bagi yang perlu ke Denmark, janji temu resmi masih bisa didapat lewat VFS Global, namun antrean kini diukur dalam minggu, bukan hari. Ke depan, kantor perwakilan Eropa diperkirakan akan mengembalikan jumlah staf penuh setelah musim panas, namun konsulat memperingatkan protokol verifikasi dokumen yang lebih ketat akan tetap berlaku. Tim mobilitas harus menganggap bahwa segala jalan pintas akan cepat terdeteksi dan ditolak. Seperti kata Madsen: “Tidak ada pengganti untuk permohonan yang jujur.”
Pejabat konsuler mengatakan banyak pemohon mengandalkan “visa fixer” tanpa izin yang menjanjikan hasil cepat dengan biaya tinggi; perantara ini sering menyediakan tiket palsu yang tampak asli tapi tidak bisa digunakan, kode QR yang mengarah ke reservasi hotel yang dibatalkan, atau polis asuransi atas nama orang lain. Berdasarkan aturan UE, pengajuan satu dokumen palsu saja langsung berujung penolakan — dan dalam kasus serius, bisa menyebabkan larangan masuk selama bertahun-tahun ke 29 negara Schengen.
Postingan Facebook konsulat minggu ini mengimbau para pelancong untuk membuat pemesanan yang bisa dibatalkan sendiri dan memeriksa setiap halaman dokumen akhir, dengan penekanan bahwa “agen tidak bertanggung jawab – pemohon yang bertanggung jawab.” Agen perjalanan yang diwawancarai The National menyebut permintaan tiket palsu melonjak karena banyak warga Teluk tidak berani membayar tiket non-refundable sebelum visa keluar. Namun, tingkat penolakan berkas dengan reservasi palsu dilaporkan lebih dari 80 persen, menjadikan “solusi” jangka pendek ini justru memperparah antrean janji temu.
Penyedia layanan resmi VFS Global menegaskan tidak menjual atau memesan slot janji temu dan mengingatkan pelanggan akan kampanye #DoNotFallForFraud. Bagi pelaku bisnis dan manajer mobilitas korporat, kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa risiko kepatuhan visa melampaui denda imigrasi. Satu pernyataan palsu bisa menggagalkan kesepakatan penting, merusak profil perjalanan internasional karyawan, dan membahayakan reputasi perusahaan. Perusahaan disarankan mengaudit agen visa eksternal, menginstruksikan karyawan membeli tiket yang bisa dikembalikan, dan menyiapkan waktu persiapan lebih lama untuk perjalanan ke Eropa sampai kapasitas konsuler kembali normal.
Bagi yang perlu ke Denmark, janji temu resmi masih bisa didapat lewat VFS Global, namun antrean kini diukur dalam minggu, bukan hari. Ke depan, kantor perwakilan Eropa diperkirakan akan mengembalikan jumlah staf penuh setelah musim panas, namun konsulat memperingatkan protokol verifikasi dokumen yang lebih ketat akan tetap berlaku. Tim mobilitas harus menganggap bahwa segala jalan pintas akan cepat terdeteksi dan ditolak. Seperti kata Madsen: “Tidak ada pengganti untuk permohonan yang jujur.”
Sumber: The National