
Indeks saham regional turun pada hari Senin setelah kantor berita Tasnim Iran mengutip negosiator yang mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga gencatan senjata di Lebanon ditegakkan dan pembebasan sanksi AS terhadap minyak Iran diberikan. Laporan ini—yang segera dibantah oleh pejabat AS—membuat bursa saham Saudi, Qatar, dan Dubai ditutup lebih rendah, dengan saham transportasi dan logistik memimpin kerugian. Bagi perusahaan yang berbasis di UEA, dampak langsungnya bersifat finansial, namun kekhawatiran yang lebih dalam adalah kelangsungan arus perdagangan yang sudah tertekan akibat gangguan pengiriman selama empat bulan. Investor menghukum perusahaan yang terpapar rantai pasokan karena kekhawatiran bahwa penutupan yang berkepanjangan akan memperpanjang tingginya tarif angkutan dan premi asuransi serta menunda sepenuhnya operasi maskapai asing di Bandara Internasional Dubai. Para profesional mobilitas perlu mencatat bahwa volatilitas saham sering kali berdampak pada ketatnya kondisi kredit bagi pemasok logistik dan bisa berujung pada permintaan pembayaran di muka dari mitra pengiriman dan angkutan. Anggaran relokasi yang dihitung dalam dolar AS juga mungkin mengalami fluktuasi nilai tukar karena mata uang Teluk mengikuti gejolak harga minyak yang dipicu ketidakpastian di Hormuz. Diplomat dari UEA, AS, dan Swiss dijadwalkan kembali menggelar pembicaraan teknis gencatan senjata akhir pekan ini. Sinyal positif terkait pembukaan koridor kemungkinan akan memicu rebound cepat pada saham transportasi—sebuah pengingat bagi tim HR bahwa perkiraan biaya perjalanan tetap sulit diprediksi di tengah iklim geopolitik saat ini.
Sumber: Business Recorder