
Data yang dirilis oleh Tourism Research Australia pada 14 Juli menunjukkan penurunan kedatangan wisatawan India sebesar 11% secara tahunan pada bulan Juni, penurunan terdalam sejak November 2024. Para analis menyalahkan kekurangan pesawat yang berkepanjangan yang memaksa Qantas dan Air India mengurangi frekuensi penerbangan, sehingga tarif pulang-pergi rata-rata melonjak di atas AUD 1.800. Indian Sun melaporkan bahwa perjalanan keluarga dan teman—yang mencakup lebih dari sepertiga pasar—paling terdampak, dengan banyak penumpang memilih menunda perjalanan hingga setelah Agustus ketika pesawat sewaan tambahan bergabung dengan armada. Agen pendidikan kini sedang menjajaki opsi charter untuk memindahkan kelompok pelajar sebelum awal semester Australia pada akhir Juli. Bagi perusahaan yang mengirim tenaga kerja India ke Australia dengan visa Temporary Skill Shortage (subclass 482), tarif yang lebih tinggi dan ketersediaan kursi yang berkurang bisa menaikkan biaya relokasi hingga 25%. Manajer perjalanan disarankan untuk memantau tren tarif dengan cermat dan mempertimbangkan rute melalui Singapura atau Kuala Lumpur, di mana koneksi penerbangan masih lebih stabil. Badan pariwisata di kedua negara mendesak Canberra untuk mempercepat pembicaraan perjanjian layanan udara bilateral yang memungkinkan maskapai India menambah penerbangan, guna meredam guncangan pasokan di masa depan.
Sumber: The Indian Sun