
Kementerian Luar Negeri Brasil mengonfirmasi pada 27 Juli bahwa mereka menolak permohonan visa dari dua pejabat senior Departemen Luar Negeri AS—Asisten Sekretaris Riley Barnes dan Wakil Asisten Sekretaris Samuel Samson—yang berencana melakukan kunjungan ke Brasília pada 27–30 Juli untuk membahas integritas pemilu, kebebasan beragama, dan kebebasan berekspresi. Menurut Associated Press, para pejabat tersebut mengajukan permohonan pada 20 Juli dan secara resmi ditolak pada 24 Juli, hanya beberapa hari setelah kandidat presiden sayap kanan Flávio Bolsonaro mengulang tuduhan—yang sudah lama ditolak oleh pengadilan Brasil—tentang kerentanan sistem pemungutan suara elektronik di negara tersebut. Pemerintahan Lula memandang keputusan ini sebagai masalah kedaulatan dan “resiprositas,” dengan menegaskan bahwa kunjungan tersebut bisa dianggap sebagai campur tangan asing menjelang pemilihan umum Oktober. Bagi manajer mobilitas global, kejadian ini menegaskan betapa cepatnya ketegangan politik dapat berujung pada penolakan visa. Perusahaan AS yang merencanakan perjalanan tingkat tinggi dengan pemberitahuan singkat ke Brasil disarankan untuk memeriksa kembali jadwal penerbitan visa dan menyiapkan rencana cadangan jika terjadi penolakan lebih lanjut. Penolakan ini juga menyoroti kesiapan Brasil yang kembali menggunakan kebijakan visa sebagai alat diplomasi—pendekatan yang sudah terlihat tahun ini melalui pengenalan bertahap persyaratan visa bagi wisatawan dari AS, Kanada, dan Australia. Secara praktis, pelancong bisnis dengan paspor AS harus mengantisipasi pemeriksaan yang lebih ketat, waktu proses yang lebih lama, dan kemungkinan penundaan tambahan bagi pelancong profil tinggi atau yang terkait pemerintah. Perusahaan disarankan mengajukan permohonan visa jauh-jauh hari, menyediakan rencana perjalanan yang rinci, dan menjaga komunikasi erat dengan konsulat Brasil. Situasi ini akan dipantau ketat oleh pengamat pemilu dan kamar dagang, yang khawatir perselisihan ini bisa meluas ke bidang perdagangan atau memicu pembatasan balasan yang lebih luas.
Sumber: Associated Press