
Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) mengonfirmasi pada Senin, 8 Desember, bahwa sebuah penerbangan deportasi charter yang membawa 55 warga negara Iran telah berangkat dari bandara AS yang tidak disebutkan menuju Teheran. Ini merupakan penerbangan kedua dalam seminggu, menandakan bahwa arahan baru pemerintahan Trump untuk mempercepat deportasi warga dari negara-negara yang dianggap “tidak kooperatif” mulai diterapkan secara nyata.
Latar Belakang dan Konteks Kebijakan
Selama puluhan tahun, deportasi ke Iran jarang terjadi karena Teheran rutin menolak mengeluarkan dokumen perjalanan dan Washington umumnya memberikan perlindungan kepada pembangkang Iran. Namun, hal ini berubah pada 20 Januari ketika Perintah Eksekutif 14161 mewajibkan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk bernegosiasi atau, jika perlu, memaksa penerimaan warga yang dapat dideportasi dari 12 negara—termasuk Iran—yang diduga menghambat upaya repatriasi AS. Sejak itu, petugas ICE memprioritaskan warga Iran dengan perintah deportasi final, banyak di antaranya telah tinggal bertahun-tahun di AS setelah masa visa habis atau klaim suaka ditolak.
Kejadian di Lapangan
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Mojtaba Shasti Karimi, 55 penumpang tersebut “setuju untuk kembali secara sukarela,” sebuah pernyataan yang dibantah oleh para pendukung di AS yang mengatakan sebagian besar telah menghabiskan proses banding dan ditempatkan dalam proses deportasi cepat. Kelompok ini termasuk beberapa penduduk AS jangka panjang dengan catatan kriminal ringan dan beberapa orang yang baru saja menyeberang perbatasan dan ditangkap di Arizona. Setibanya di Iran, para deportan wajib menjalani wawancara keamanan oleh Kementerian Intelijen Iran, yang memicu kekhawatiran dari kelompok hak asasi internasional tentang potensi perlakuan buruk.
Dampak Bisnis dan Mobilitas
Manajer mobilitas korporat harus mencatat bahwa penerbangan deportasi ICE dapat membatasi ketersediaan kursi komersial untuk kepulangan sukarela dan meningkatkan risiko bagi pekerja Iran yang statusnya bermasalah. Perusahaan yang mempekerjakan warga Iran dengan visa kerja disarankan untuk meninjau berkas I-9 dan memastikan pengajuan perpanjangan visa dilakukan tepat waktu. Perkembangan ini juga menegaskan peningkatan penegakan hukum bagi warga negara dari negara yang masuk daftar “tidak patuh” DHS, sehingga meningkatkan risiko bagi ekspatriat jangka panjang dengan status yang kedaluwarsa.
Saran Praktis
1. Beri nasihat kepada karyawan dari negara terdampak untuk selalu membawa bukti status hukum dan berkonsultasi dengan penasihat imigrasi sebelum melakukan perjalanan internasional.
2. Tim HR harus menyiapkan rencana darurat—termasuk opsi kerja jarak jauh—jika staf kunci tiba-tiba ditahan.
3. Program mobilitas yang memindahkan tenaga kerja Iran ke AS mungkin perlu mengalihkan proses visa ke kantor pemrosesan di negara ketiga (misalnya Ankara atau Abu Dhabi) di mana penerbitan visa masih memungkinkan namun dengan pengawasan lebih ketat.
Dalam jangka pendek, diperkirakan akan ada penerbangan deportasi mingguan tambahan selama saluran diplomatik masih tegang. Dalam jangka panjang, kelompok advokasi kemungkinan akan menantang kebijakan ini di pengadilan federal, meskipun belum ada perintah penangguhan yang diberlakukan.
Latar Belakang dan Konteks Kebijakan
Selama puluhan tahun, deportasi ke Iran jarang terjadi karena Teheran rutin menolak mengeluarkan dokumen perjalanan dan Washington umumnya memberikan perlindungan kepada pembangkang Iran. Namun, hal ini berubah pada 20 Januari ketika Perintah Eksekutif 14161 mewajibkan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk bernegosiasi atau, jika perlu, memaksa penerimaan warga yang dapat dideportasi dari 12 negara—termasuk Iran—yang diduga menghambat upaya repatriasi AS. Sejak itu, petugas ICE memprioritaskan warga Iran dengan perintah deportasi final, banyak di antaranya telah tinggal bertahun-tahun di AS setelah masa visa habis atau klaim suaka ditolak.
Kejadian di Lapangan
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Mojtaba Shasti Karimi, 55 penumpang tersebut “setuju untuk kembali secara sukarela,” sebuah pernyataan yang dibantah oleh para pendukung di AS yang mengatakan sebagian besar telah menghabiskan proses banding dan ditempatkan dalam proses deportasi cepat. Kelompok ini termasuk beberapa penduduk AS jangka panjang dengan catatan kriminal ringan dan beberapa orang yang baru saja menyeberang perbatasan dan ditangkap di Arizona. Setibanya di Iran, para deportan wajib menjalani wawancara keamanan oleh Kementerian Intelijen Iran, yang memicu kekhawatiran dari kelompok hak asasi internasional tentang potensi perlakuan buruk.
Dampak Bisnis dan Mobilitas
Manajer mobilitas korporat harus mencatat bahwa penerbangan deportasi ICE dapat membatasi ketersediaan kursi komersial untuk kepulangan sukarela dan meningkatkan risiko bagi pekerja Iran yang statusnya bermasalah. Perusahaan yang mempekerjakan warga Iran dengan visa kerja disarankan untuk meninjau berkas I-9 dan memastikan pengajuan perpanjangan visa dilakukan tepat waktu. Perkembangan ini juga menegaskan peningkatan penegakan hukum bagi warga negara dari negara yang masuk daftar “tidak patuh” DHS, sehingga meningkatkan risiko bagi ekspatriat jangka panjang dengan status yang kedaluwarsa.
Saran Praktis
1. Beri nasihat kepada karyawan dari negara terdampak untuk selalu membawa bukti status hukum dan berkonsultasi dengan penasihat imigrasi sebelum melakukan perjalanan internasional.
2. Tim HR harus menyiapkan rencana darurat—termasuk opsi kerja jarak jauh—jika staf kunci tiba-tiba ditahan.
3. Program mobilitas yang memindahkan tenaga kerja Iran ke AS mungkin perlu mengalihkan proses visa ke kantor pemrosesan di negara ketiga (misalnya Ankara atau Abu Dhabi) di mana penerbitan visa masih memungkinkan namun dengan pengawasan lebih ketat.
Dalam jangka pendek, diperkirakan akan ada penerbangan deportasi mingguan tambahan selama saluran diplomatik masih tegang. Dalam jangka panjang, kelompok advokasi kemungkinan akan menantang kebijakan ini di pengadilan federal, meskipun belum ada perintah penangguhan yang diberlakukan.
Sumber: Associated Press