
Perdebatan sengit tentang migrasi di Prancis menjadi sorotan utama dalam konferensi pers pasca-Kabinet pada 27 Mei ketika Menteri Kehakiman Gérald Darmanin didesak oleh wartawan untuk menjelaskan usulannya pada akhir pekan tentang moratorium tiga tahun untuk imigrasi legal. Menteri tersebut menegaskan kembali, mengatakan bahwa negara telah “mencapai batas kapasitasnya untuk integrasi dan asimilasi” serta mengusulkan amandemen konstitusi yang memungkinkan parlemen menetapkan kuota tahunan yang mengikat. Darmanin pertama kali mengemukakan ide ini dalam wawancara dengan *Le Journal du Dimanche* pada 24 Mei, namun konferensi pers hari Rabu menunjukkan bahwa ia berniat menjaga isu ini tetap hidup menjelang pemilihan presiden 2027.
Meski enggan membahas strategi kampanye, ia menekankan bahwa setiap pembekuan akan disertai dengan penegakan deportasi yang lebih ketat dan aturan yang lebih ketat untuk visa reunifikasi keluarga. Usulan ini merupakan perubahan tajam dari undang-undang imigrasi Presiden Emmanuel Macron tahun 2023, yang menciptakan jalur izin kerja yang disederhanakan untuk pekerjaan yang kekurangan tenaga dan pengusaha. Asosiasi bisnis segera memperingatkan bahwa penghentian total bisa merusak daya tarik Prancis bagi talenta asing di bidang teknologi, kesehatan, dan teknik—sektor-sektor yang sudah menghadapi kekurangan keterampilan.
Para analis juga mencatat bahwa arahan Uni Eropa tentang pekerja berkualifikasi tinggi (kartu “Blue Card”) akan membatasi ruang gerak Paris. Bagi manajer mobilitas global, yang paling penting adalah ketidakpastian. Meski moratorium ini hanya menjadi bagian dari kampanye, tim HR harus merencanakan skenario untuk pengelolaan kuota yang lebih ketat, waktu proses yang lebih lama, dan kemungkinan pembatasan transfer antarperusahaan. Perusahaan dengan proyek jangka panjang—seperti di bidang dirgantara atau energi—disarankan untuk memprioritaskan penugasan yang membutuhkan keahlian non-UE sebelum pembekuan diberlakukan.
Kalender politik menunjukkan bahwa legislasi konkret kemungkinan baru akan muncul akhir 2026, namun para pemangku kepentingan harus segera berpartisipasi dalam kamar industri dan konsultasi pemerintah agar pengecualian untuk keterampilan kritis tetap dipertahankan.
Meski enggan membahas strategi kampanye, ia menekankan bahwa setiap pembekuan akan disertai dengan penegakan deportasi yang lebih ketat dan aturan yang lebih ketat untuk visa reunifikasi keluarga. Usulan ini merupakan perubahan tajam dari undang-undang imigrasi Presiden Emmanuel Macron tahun 2023, yang menciptakan jalur izin kerja yang disederhanakan untuk pekerjaan yang kekurangan tenaga dan pengusaha. Asosiasi bisnis segera memperingatkan bahwa penghentian total bisa merusak daya tarik Prancis bagi talenta asing di bidang teknologi, kesehatan, dan teknik—sektor-sektor yang sudah menghadapi kekurangan keterampilan.
Para analis juga mencatat bahwa arahan Uni Eropa tentang pekerja berkualifikasi tinggi (kartu “Blue Card”) akan membatasi ruang gerak Paris. Bagi manajer mobilitas global, yang paling penting adalah ketidakpastian. Meski moratorium ini hanya menjadi bagian dari kampanye, tim HR harus merencanakan skenario untuk pengelolaan kuota yang lebih ketat, waktu proses yang lebih lama, dan kemungkinan pembatasan transfer antarperusahaan. Perusahaan dengan proyek jangka panjang—seperti di bidang dirgantara atau energi—disarankan untuk memprioritaskan penugasan yang membutuhkan keahlian non-UE sebelum pembekuan diberlakukan.
Kalender politik menunjukkan bahwa legislasi konkret kemungkinan baru akan muncul akhir 2026, namun para pemangku kepentingan harus segera berpartisipasi dalam kamar industri dan konsultasi pemerintah agar pengecualian untuk keterampilan kritis tetap dipertahankan.