
Hanya beberapa jam setelah Pakta Migrasi Uni Eropa menjadi undang-undang, Layanan Imigrasi Finlandia (Migri) menerbitkan surat edaran sepanjang 16 halaman yang menjelaskan secara rinci bagaimana petugas kasus, polisi, dan staf pusat penerimaan harus menerapkan kerangka kerja baru ini. Panduan yang dirilis pada 12 Juni 2026 ini mengubah regulasi luas UE menjadi aturan operasional sehari-hari yang langsung berdampak pada pencari suaka, pemerintah daerah, dan pemberi kerja yang menampung pekerja asing.
Perubahan utama meliputi proses pengajuan tiga tahap—‘membuat’, ‘mendaftarkan’, dan ‘mengajukan’ permohonan—yang menempatkan sebagian besar beban administratif pada polisi perbatasan. Hanya setelah tahap “pengajuan” terakhir, Migri akan menerima kasus tersebut, artinya pencari suaka yang tidak hadir di pusat penerimaan untuk pengambilan sidik jari bisa kehilangan antreannya sepenuhnya. Migri juga menegaskan bahwa prosedur perbatasan yang sebelumnya opsional kini wajib di Finlandia: setiap klaim yang dianggap kurang layak (misalnya, berasal dari negara dengan tingkat pengakuan di UE di bawah 20 persen) harus diselesaikan dalam 12 minggu, termasuk banding.
Penghuni pusat penerimaan menghadapi kewajiban baru. Mereka harus mengidentifikasi diri dua hingga empat kali sebulan, mengikuti kursus ‘Masyarakat Finlandia’, dan mematuhi aturan di lokasi atau berisiko dipotong 20 persen dari tunjangan penerimaan yang relatif kecil. Layanan akan berakhir paling lambat tiga bulan setelah seseorang menerima izin tinggal, mendorong pemerintah daerah untuk lebih cepat mengintegrasikan pengungsi yang diakui. Migri memperkirakan batas waktu ini akan memindahkan sekitar 4.000 penerima perlindungan sementara asal Ukraina ke perumahan lokal sebelum akhir tahun.
Bagian yang paling kontroversial mencakup pengusiran dan larangan masuk. Banding terhadap deportasi non-kriminal tidak lagi otomatis menunda pelaksanaan; jika pengadilan administratif tidak menangguhkan keputusan dalam 30 hari, polisi dapat melanjutkan proses. Petugas juga dapat memberlakukan larangan masuk wilayah Schengen secara luas terhadap warga asing di luar Finlandia meskipun mereka belum pernah memegang izin Finlandia—opsi ini ditujukan untuk mengurangi ancaman keamanan.
Bagi manajer mobilitas global, pesannya jelas: jalur suaka dan migrasi tenaga kerja semakin dipisahkan secara tegas. Pekerja yang kehilangan status setelah pemutusan hubungan kerja kini hanya memiliki waktu singkat untuk mengatur statusnya sebelum perintah deportasi dapat diberlakukan, dan pemberi kerja yang menampung wajib memberi tahu Migri tentang pemutusan kontrak dalam waktu lima hari.
Perubahan utama meliputi proses pengajuan tiga tahap—‘membuat’, ‘mendaftarkan’, dan ‘mengajukan’ permohonan—yang menempatkan sebagian besar beban administratif pada polisi perbatasan. Hanya setelah tahap “pengajuan” terakhir, Migri akan menerima kasus tersebut, artinya pencari suaka yang tidak hadir di pusat penerimaan untuk pengambilan sidik jari bisa kehilangan antreannya sepenuhnya. Migri juga menegaskan bahwa prosedur perbatasan yang sebelumnya opsional kini wajib di Finlandia: setiap klaim yang dianggap kurang layak (misalnya, berasal dari negara dengan tingkat pengakuan di UE di bawah 20 persen) harus diselesaikan dalam 12 minggu, termasuk banding.
Penghuni pusat penerimaan menghadapi kewajiban baru. Mereka harus mengidentifikasi diri dua hingga empat kali sebulan, mengikuti kursus ‘Masyarakat Finlandia’, dan mematuhi aturan di lokasi atau berisiko dipotong 20 persen dari tunjangan penerimaan yang relatif kecil. Layanan akan berakhir paling lambat tiga bulan setelah seseorang menerima izin tinggal, mendorong pemerintah daerah untuk lebih cepat mengintegrasikan pengungsi yang diakui. Migri memperkirakan batas waktu ini akan memindahkan sekitar 4.000 penerima perlindungan sementara asal Ukraina ke perumahan lokal sebelum akhir tahun.
Bagian yang paling kontroversial mencakup pengusiran dan larangan masuk. Banding terhadap deportasi non-kriminal tidak lagi otomatis menunda pelaksanaan; jika pengadilan administratif tidak menangguhkan keputusan dalam 30 hari, polisi dapat melanjutkan proses. Petugas juga dapat memberlakukan larangan masuk wilayah Schengen secara luas terhadap warga asing di luar Finlandia meskipun mereka belum pernah memegang izin Finlandia—opsi ini ditujukan untuk mengurangi ancaman keamanan.
Bagi manajer mobilitas global, pesannya jelas: jalur suaka dan migrasi tenaga kerja semakin dipisahkan secara tegas. Pekerja yang kehilangan status setelah pemutusan hubungan kerja kini hanya memiliki waktu singkat untuk mengatur statusnya sebelum perintah deportasi dapat diberlakukan, dan pemberi kerja yang menampung wajib memberi tahu Migri tentang pemutusan kontrak dalam waktu lima hari.