
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengonfirmasi pada 2 Agustus bahwa penghalang laut terapung sepanjang 500 meter telah dipasang beberapa meter dari pantai Tarajal di Ceuta, titik utama di mana ribuan migran berenang atau berjalan masuk ke enklaf Spanyol pekan lalu. Penghalang modular—mirip dengan yang digunakan untuk menahan tumpahan minyak—dipasang semalam oleh Angkatan Laut dan Guardia Civil. Pejabat menyatakan struktur ini bertujuan memperlambat masuknya massa lebih lanjut sementara pagar darat diperkuat dan drone pengawas tambahan dikerahkan. Langkah ini menyusul insiden migrasi paling mematikan di wilayah Spanyol dalam beberapa dekade: setidaknya 67 orang tenggelam dan puluhan terluka saat mencoba mencapai Ceuta antara 30 Juli dan 1 Agustus. Lebih dari 60.000 orang—kebanyakan pria muda asal Maroko—menyeberang perbatasan hanya dalam 48 jam. Menurut data pemerintah, sekitar 48.000 sudah kembali secara sukarela ke Maroko setelah patroli gabungan dan pusat pemrosesan kemanusiaan didirikan di kedua sisi perbatasan. Kelompok bisnis yang beroperasi di enklaf, termasuk Otoritas Pelabuhan Ceuta dan Kamar Dagang Maroko-Spanyol, memperingatkan bahwa penghalang dan pengawasan yang diperketat mengganggu pergerakan harian truk, pekerja musiman, dan rantai pasok tepat waktu yang menghubungkan Ceuta dengan daratan Spanyol melalui feri. Perusahaan multinasional dengan pusat logistik Afrika Utara—seperti Inditex dan Maersk—telah mengaktifkan rencana darurat, mengalihkan kargo melalui Algeciras dan Tangier-Med. Dari sudut pandang hukum, Madrid berargumen bahwa penghalang ini sesuai dengan Pasal 25 Kode Perbatasan Schengen, yang mengizinkan “langkah sementara luar biasa” untuk menjaga ketertiban umum; sementara LSM berpendapat hal ini berisiko mendorong migran ke rute yang lebih berbahaya. Pengawas hak asasi manusia juga mempertanyakan apakah penghalang ini mematuhi arahan keselamatan maritim Uni Eropa. Pemerintah menegaskan pemasangan ini bersifat sementara dan akan ditinjau pada Dewan Kehakiman dan Urusan Dalam Negeri (JHA) Uni Eropa berikutnya pada 4 Agustus. Bagi manajer mobilitas global, kejadian ini menegaskan betapa cepatnya perbatasan luar Eropa dapat ditutup, memengaruhi pekerja yang ditugaskan dan staf lintas batas. Perusahaan dengan operasi di Afrika Utara disarankan meninjau protokol perjalanan darurat, memastikan dokumen perjalanan karyawan lengkap, dan mengantisipasi waktu tunggu lebih lama untuk janji visa Schengen di kantor Spanyol di wilayah tersebut.
Sumber: Associated Press