
Penumpang yang bepergian melalui Dubai International (DXB) dan Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi (AUH) pada Kamis, 8 Oktober, kembali dihadapkan pada pesan yang sudah familiar namun menyebalkan: “Periksa status penerbangan Anda sebelum berangkat dari rumah.” Pemberitahuan terbaru dari Gulf News menunjukkan bahwa pagi itu gangguan bergilir kembali melanda empat maskapai utama negara tersebut—Emirates, Etihad Airways, flydubai, dan Air Arabia—serta sejumlah maskapai asing. Pembatalan penerbangan terjadi untuk rute ke Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, dan Moskow, sementara banyak keberangkatan lainnya mengalami keterlambatan. Dampaknya terasa di antrean check-in, penerbangan lanjutan, dan jadwal kargo. Pejabat penerbangan dan juru bicara maskapai menyalahkan kombinasi faktor: kekhawatiran keamanan regional yang masih berlangsung terkait konflik AS-Iran, penutupan ruang udara Irak yang berlanjut, serta hambatan operasional saat maskapai mengalihkan rute untuk menghindari zona konflik. UAE juga menangguhkan semua penerbangan yang dioperasikan Iran “sampai pemberitahuan lebih lanjut,” menghilangkan fleksibilitas jadwal dan memaksa maskapai mengganti kru serta peralatan secara mendadak. Meski gangguan ini cukup signifikan, ada tanda-tanda pemulihan bertahap. Maskapai dari Lufthansa Group, SWISS dan Austrian Airlines, mengonfirmasi rencana untuk memulihkan atau menambah layanan mulai akhir Oktober, dengan total hingga 36 penerbangan mingguan saat puncak permintaan musim dingin. Namun, Wizz Air menunda beberapa peluncuran rute dari Abu Dhabi hingga Januari 2027, dengan alasan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi akibat rute yang lebih panjang. Bagi manajer perjalanan korporat, pesannya jelas: siapkan waktu ekstra dalam jadwal perjalanan, pantau pergerakan karyawan secara real-time, dan simpan alternatif rute. Para pelancong disarankan menyediakan waktu minimal tiga hingga empat jam di bandara, lakukan check-in online bila memungkinkan, dan berlangganan aplikasi maskapai untuk mendapatkan pemberitahuan langsung. Pengirim kargo menghadapi masalah serupa—pesawat yang terlambat berarti jendela pengiriman truk terlewat—sehingga para pengelola pengiriman menyarankan klien untuk mengirim barang yang sangat mendesak di awal minggu.
Sumber: Gulf News