
Menteri Luar Negeri yang baru diangkat, Johann Wadephul, berangkat dari Berlin pada 8 Desember untuk kunjungan selama empat hari ke Beijing, Shanghai, dan Shenzhen—perjalanan luar negeri pertamanya sejak menjabat pada Oktober lalu. Waktu kunjungan ini menegaskan pergeseran Berlin menuju kebijakan yang disebut Kanselir Friedrich Merz sebagai “mengurangi risiko tanpa memutus hubungan.”
Pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Perdagangan Wang Wentao akan fokus pada pembatasan ekspor China terhadap gallium, germanium, dan magnet tanah jarang—bahan penting bagi pabrik kendaraan listrik dan semikonduktor Jerman. Delegasi ini juga melibatkan eksekutif dari BMW, Infineon, dan BASF yang mencari jaminan agar izin rantai pasokan diproses dengan lebih teratur.
Dari sudut pandang mobilitas global, kunjungan ini memiliki dua tujuan. Pertama, Wadephul akan mendorong pelonggaran visa perjalanan bisnis secara timbal balik. Sejak Juli, eksekutif Jerman mengeluhkan waktu proses visa yang mencapai satu minggu di konsulat China, sementara China masih menerapkan visa dengan deklarasi kesehatan berbasis kode QR. Pejabat yang mendampingi menteri menyebutkan kemungkinan pengumuman visa elektronik multiple-entry percontohan untuk pemegang kartu APEC. Kedua, kedua pihak diharapkan menyelesaikan jalur “trusted-traveller” di Bandara Beijing Capital bagi warga Jerman yang terdaftar dalam Sistem Masuk/Keluar Uni Eropa yang akan datang—yang berpotensi memangkas waktu formalitas kedatangan menjadi kurang dari sepuluh menit.
Selain diplomasi, Wadephul membawa pesan dari Komite Perdagangan Strategis Bundestag yang baru: aliran investasi berkelanjutan akan bergantung pada sikap Beijing terhadap perang Rusia di Ukraina dan pengurangan insiden spionase siber yang menargetkan anak perusahaan Jerman. Perusahaan multinasional harus bersiap menghadapi audit kontrol ekspor yang lebih ketat dan mungkin perlu memindahkan kembali pekerjaan R&D sensitif ke Jerman atau negara ketiga.
Penasihat keamanan perjalanan mencatat bahwa Beijing telah menaikkan status kewaspadaan COVID-19 ke Level II di tengah peningkatan penyakit pernapasan musiman. Kementerian Luar Negeri Jerman belum mengeluarkan peringatan perjalanan, namun merekomendasikan tes PCR sebelum keberangkatan bagi pelancong dengan frekuensi tinggi—sebuah pengingat bahwa protokol kesehatan pasca-pandemi masih menjadi tantangan dinamis bagi program mobilitas korporat.
Pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Perdagangan Wang Wentao akan fokus pada pembatasan ekspor China terhadap gallium, germanium, dan magnet tanah jarang—bahan penting bagi pabrik kendaraan listrik dan semikonduktor Jerman. Delegasi ini juga melibatkan eksekutif dari BMW, Infineon, dan BASF yang mencari jaminan agar izin rantai pasokan diproses dengan lebih teratur.
Dari sudut pandang mobilitas global, kunjungan ini memiliki dua tujuan. Pertama, Wadephul akan mendorong pelonggaran visa perjalanan bisnis secara timbal balik. Sejak Juli, eksekutif Jerman mengeluhkan waktu proses visa yang mencapai satu minggu di konsulat China, sementara China masih menerapkan visa dengan deklarasi kesehatan berbasis kode QR. Pejabat yang mendampingi menteri menyebutkan kemungkinan pengumuman visa elektronik multiple-entry percontohan untuk pemegang kartu APEC. Kedua, kedua pihak diharapkan menyelesaikan jalur “trusted-traveller” di Bandara Beijing Capital bagi warga Jerman yang terdaftar dalam Sistem Masuk/Keluar Uni Eropa yang akan datang—yang berpotensi memangkas waktu formalitas kedatangan menjadi kurang dari sepuluh menit.
Selain diplomasi, Wadephul membawa pesan dari Komite Perdagangan Strategis Bundestag yang baru: aliran investasi berkelanjutan akan bergantung pada sikap Beijing terhadap perang Rusia di Ukraina dan pengurangan insiden spionase siber yang menargetkan anak perusahaan Jerman. Perusahaan multinasional harus bersiap menghadapi audit kontrol ekspor yang lebih ketat dan mungkin perlu memindahkan kembali pekerjaan R&D sensitif ke Jerman atau negara ketiga.
Penasihat keamanan perjalanan mencatat bahwa Beijing telah menaikkan status kewaspadaan COVID-19 ke Level II di tengah peningkatan penyakit pernapasan musiman. Kementerian Luar Negeri Jerman belum mengeluarkan peringatan perjalanan, namun merekomendasikan tes PCR sebelum keberangkatan bagi pelancong dengan frekuensi tinggi—sebuah pengingat bahwa protokol kesehatan pasca-pandemi masih menjadi tantangan dinamis bagi program mobilitas korporat.
Sumber: Reuters
Bagaimana VisaHQ dapat membantu
VisaHQ menyederhanakan proses pengajuan visa bagi perorangan dan perusahaan. Periksa persyaratan perjalanan terkini, siapkan dokumen yang diperlukan, dan kelola pengajuan Anda secara online melalui portal VisaHQ untuk Jerman.Lebih Banyak Dari Jerman
Lihat semua
Bundestag mencabut hak pendampingan hukum otomatis bagi migran yang ditahan dan membolehkan Kementerian Dalam Negeri menetapkan ‘negara aman’ melalui keputusan resmi.
Menteri UE Dukung Reformasi Suaka dan Daftar 'Negara Aman' Bersama; Berlin Siapkan Pelaksanaan Cepat