
Para pedagang di Marquis Street dan Sudder Street, pusat kota Kolkata, menghela napas lega pada 12 Juli setelah kabar bahwa India kembali memproses visa turis untuk warga Bangladesh, yang sempat dihentikan sejak kerusuhan politik pada 2024. Laporan dari bagian perjalanan The Economic Times menyebutkan bahwa restoran, hotel murah, dan toko-toko yang melayani pembeli asal Bangladesh mulai membuka kembali toko, mengecat ulang fasad, dan merekrut staf baru, bersiap menyambut lonjakan pengunjung saat arus wisatawan menjelang Eid-ul-Milad bulan depan.
Sebelum penutupan, Bangladesh menyumbang hampir 25 persen dari jumlah wisatawan asing yang datang ke Kolkata, menopang ekosistem pariwisata medis, perdagangan kain grosir, dan layanan bus ke Durgapur serta Siliguri. Para pengelola hotel kini memperkirakan tingkat hunian naik dari 45 persen saat ini menjadi 70 persen pada Oktober, sementara asosiasi ritel memprediksi peningkatan penjualan sebesar ₹300 crore selama musim Puja.
Dari sisi mobilitas, keputusan ini menghidupkan kembali koridor penting untuk perjalanan bisnis singkat. Eksportir pakaian Bangladesh menggunakan kota ini sebagai pusat transit menuju Mumbai dan Tiruppur, sementara perusahaan IT India merekrut tenaga kerja berbahasa Bengali melalui bursa kerja yang diadakan di pusat visa Kolkata. Pembukaan kembali ini juga memudahkan reuni keluarga lintas batas yang sebelumnya harus melalui jalur udara lebih mahal lewat Dubai.
Secara operasional, kuota visa awal dibatasi 1.500 per hari untuk menghindari kerumunan di Integrated Visa Application Centre di Jamuna Future Park, Dhaka. Pemohon harus mengunggah data biometrik terlebih dahulu dan mengambil paspor di Kolkata, bukan di Dhaka, guna mengurangi keterlambatan pengiriman. Tim mobilitas disarankan untuk memesan token janji temu lebih awal dan menganggarkan waktu 5-7 hari kerja untuk penerbitan visa selama proses backlog diselesaikan.
Para diplomat menyambut langkah ini sebagai upaya membangun kepercayaan setelah berbulan-bulan ketegangan bilateral. Bagi pelaku usaha kecil di Kolkata, kabar ini sangat dinantikan; banyak yang selama ini hanya bisa bertahan di titik impas, dan kembalinya wisatawan Bangladesh bisa menjadi penentu antara bertahan hidup atau tutup.
Sebelum penutupan, Bangladesh menyumbang hampir 25 persen dari jumlah wisatawan asing yang datang ke Kolkata, menopang ekosistem pariwisata medis, perdagangan kain grosir, dan layanan bus ke Durgapur serta Siliguri. Para pengelola hotel kini memperkirakan tingkat hunian naik dari 45 persen saat ini menjadi 70 persen pada Oktober, sementara asosiasi ritel memprediksi peningkatan penjualan sebesar ₹300 crore selama musim Puja.
Dari sisi mobilitas, keputusan ini menghidupkan kembali koridor penting untuk perjalanan bisnis singkat. Eksportir pakaian Bangladesh menggunakan kota ini sebagai pusat transit menuju Mumbai dan Tiruppur, sementara perusahaan IT India merekrut tenaga kerja berbahasa Bengali melalui bursa kerja yang diadakan di pusat visa Kolkata. Pembukaan kembali ini juga memudahkan reuni keluarga lintas batas yang sebelumnya harus melalui jalur udara lebih mahal lewat Dubai.
Secara operasional, kuota visa awal dibatasi 1.500 per hari untuk menghindari kerumunan di Integrated Visa Application Centre di Jamuna Future Park, Dhaka. Pemohon harus mengunggah data biometrik terlebih dahulu dan mengambil paspor di Kolkata, bukan di Dhaka, guna mengurangi keterlambatan pengiriman. Tim mobilitas disarankan untuk memesan token janji temu lebih awal dan menganggarkan waktu 5-7 hari kerja untuk penerbitan visa selama proses backlog diselesaikan.
Para diplomat menyambut langkah ini sebagai upaya membangun kepercayaan setelah berbulan-bulan ketegangan bilateral. Bagi pelaku usaha kecil di Kolkata, kabar ini sangat dinantikan; banyak yang selama ini hanya bisa bertahan di titik impas, dan kembalinya wisatawan Bangladesh bisa menjadi penentu antara bertahan hidup atau tutup.
Sumber: ETTravelWorld