
Kementerian Dalam Negeri (MHA) mengeluarkan klarifikasi tak biasa pada Sabtu malam, 1 November 2025, setelah beredar postingan di media sosial yang menuduh petugas imigrasi India di Bandara Internasional Indira Gandhi, Delhi, menghalangi seorang mahasiswa pascasarjana asal Nepal, Shambhavi Adhikari, naik penerbangan lanjutan ke Berlin. Dalam pernyataan resmi, petugas imigrasi menyatakan tidak pernah berinteraksi dengan penumpang tersebut; keputusan menolak naik pesawat sepenuhnya diambil oleh maskapai penerbangan setelah ditemukan bahwa visa Schengen penumpang tidak mencakup durasi tinggal yang diminta.
Mengapa klarifikasi ini penting: Delhi telah menjadi pusat transit utama Asia Selatan bagi pelancong menuju Eropa karena tarif yang kompetitif dan koneksi yang luas. Persepsi adanya perlakuan diskriminatif di perbatasan dapat merusak citra India yang telah dibangun sebagai gerbang penerbangan global yang berkembang. Dengan secara terbuka menjauhkan diri dari insiden ini, MHA berupaya meyakinkan Nepal—yang warganya biasanya bebas visa masuk India—dan menegaskan bahwa maskapai, bukan petugas perbatasan, yang memutuskan apakah penumpang memenuhi aturan dokumen negara tujuan.
Bagi manajer mobilitas bisnis, kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa staf maskapai rutin melakukan pemeriksaan dokumen tambahan, terutama untuk rute Schengen dan AS. Meski penumpang memiliki visa yang valid, ketidaksesuaian antara tanggal perjalanan dan masa berlaku visa, kekurangan asuransi, atau tiket pulang yang hilang dapat memicu keputusan “tidak boleh naik pesawat”. Oleh karena itu, perusahaan harus mengingatkan karyawan dan penugasan yang transit melalui India untuk membawa dokumen pendukung lengkap dan menyediakan waktu tunggu yang cukup jika perlu penggantian tiket.
MHA juga menegaskan bahwa penumpang transit internasional di bandara India tidak melewati imigrasi India kecuali mereka masuk ke negara tersebut. Namun, dalam praktiknya, maskapai yang beroperasi dengan model hub-and-spoke di Delhi cenderung berhati-hati; penerbangan pemulangan bagi penumpang yang tidak diizinkan masuk bisa menelan biaya lebih dari US$6.000. Komunikasi cepat kementerian—beserta jaminan tegas bahwa “India menghargai hubungan kuat dengan Nepal”—membantu meredakan potensi ketegangan bilateral sekaligus menunjukkan komitmen berkelanjutan pada proses perbatasan yang efisien dan tanpa diskriminasi.
Ke depan, para pengamat memperkirakan Peraturan Imigrasi dan Orang Asing India yang akan datang—diperkirakan diumumkan sebelum akhir tahun—akan memuat protokol kerja sama maskapai yang lebih jelas dan mekanisme banding penumpang, sehingga mengurangi kemungkinan kontroversi serupa.
Mengapa klarifikasi ini penting: Delhi telah menjadi pusat transit utama Asia Selatan bagi pelancong menuju Eropa karena tarif yang kompetitif dan koneksi yang luas. Persepsi adanya perlakuan diskriminatif di perbatasan dapat merusak citra India yang telah dibangun sebagai gerbang penerbangan global yang berkembang. Dengan secara terbuka menjauhkan diri dari insiden ini, MHA berupaya meyakinkan Nepal—yang warganya biasanya bebas visa masuk India—dan menegaskan bahwa maskapai, bukan petugas perbatasan, yang memutuskan apakah penumpang memenuhi aturan dokumen negara tujuan.
Bagi manajer mobilitas bisnis, kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa staf maskapai rutin melakukan pemeriksaan dokumen tambahan, terutama untuk rute Schengen dan AS. Meski penumpang memiliki visa yang valid, ketidaksesuaian antara tanggal perjalanan dan masa berlaku visa, kekurangan asuransi, atau tiket pulang yang hilang dapat memicu keputusan “tidak boleh naik pesawat”. Oleh karena itu, perusahaan harus mengingatkan karyawan dan penugasan yang transit melalui India untuk membawa dokumen pendukung lengkap dan menyediakan waktu tunggu yang cukup jika perlu penggantian tiket.
MHA juga menegaskan bahwa penumpang transit internasional di bandara India tidak melewati imigrasi India kecuali mereka masuk ke negara tersebut. Namun, dalam praktiknya, maskapai yang beroperasi dengan model hub-and-spoke di Delhi cenderung berhati-hati; penerbangan pemulangan bagi penumpang yang tidak diizinkan masuk bisa menelan biaya lebih dari US$6.000. Komunikasi cepat kementerian—beserta jaminan tegas bahwa “India menghargai hubungan kuat dengan Nepal”—membantu meredakan potensi ketegangan bilateral sekaligus menunjukkan komitmen berkelanjutan pada proses perbatasan yang efisien dan tanpa diskriminasi.
Ke depan, para pengamat memperkirakan Peraturan Imigrasi dan Orang Asing India yang akan datang—diperkirakan diumumkan sebelum akhir tahun—akan memuat protokol kerja sama maskapai yang lebih jelas dan mekanisme banding penumpang, sehingga mengurangi kemungkinan kontroversi serupa.