
Siprus semakin mengukuhkan perannya sebagai pusat logistik di Timur Tengah pada 2 November 2025 ketika sebuah konvoi yang membawa 940 ton bahan makanan dan perlengkapan tempat tinggal tiba di Pelabuhan Ashdod, Israel, untuk didistribusikan ke Gaza. Pengiriman ini—yang diorganisir dalam **Operasi Amalthea**—berangkat dari Limassol pada 31 Oktober dan dibongkar pada dini hari 2 November, demikian konfirmasi dari Kementerian Luar Negeri yang juga mengucapkan terima kasih kepada Uni Emirat Arab dan Kantor Proyek PBB (UNOPS) atas dukungan operasionalnya.
Amalthea dirancang pada akhir 2024 sebagai koridor maritim sipil yang memungkinkan kargo yang telah diperiksa melewati jalur darat yang sering ditutup karena alasan keamanan. Sejak uji coba pertamanya pada Februari 2025, koridor ini telah menyalurkan lebih dari 27.000 ton bantuan kemanusiaan, dengan Siprus menyediakan fasilitas pergudangan, pemeriksaan keamanan, dan bea cukai. Dalam skema ini, kargo diperiksa terlebih dahulu di Limassol oleh tim gabungan petugas bea cukai Siprus, spesialis Frontex UE, dan personel keamanan Israel, sehingga proses bongkar muat di Ashdod dapat dilakukan tanpa pemeriksaan tambahan.
Bagi Siprus, proyek ini merupakan kemenangan diplomatik dan ekonomi. Pelabuhan Limassol mencatat peningkatan throughput sebesar 15 persen dibanding tahun sebelumnya, dan penyedia logistik seperti DP World dan Salamis Shipping telah membuka meja layanan khusus Amalthea. Menteri Luar Negeri Constantinos Kombos menegaskan bahwa inisiatif ini menunjukkan “nilai unik Siprus sebagai jembatan antara Eropa dan Timur Tengah” dan pemerintah sedang mempertimbangkan pendirian pusat logistik kemanusiaan permanen di dekat Vasilikos.
Manajer mobilitas dan penugasan perlu mencatat bahwa koridor ini beroperasi sesuai aturan bea cukai UE; prosedur ATA Carnet berlaku untuk barang ekspor sementara seperti generator dan peralatan medis. Perusahaan yang mengirim staf atau kargo melalui Limassol disarankan untuk memesan slot inspeksi sebelumnya dan memperhitungkan peningkatan langkah keamanan di sekitar pelabuhan. Kementerian Luar Negeri juga mengingatkan LSM bahwa semua personel yang transit ke Gaza harus memperoleh izin khusus dari otoritas Israel dan Palestina.
Dengan gangguan yang terus terjadi pada jalur darat tradisional akibat konflik di Gaza, Operasi Amalthea diperkirakan akan tetap menjadi jalur utama bagi aliran bantuan kemanusiaan dan komersial. Para analis memperkirakan Siprus akan memanfaatkan pengalaman ini untuk mengajukan koridor maritim serupa bagi Lebanon dan Suriah, semakin memperkuat relevansi strategisnya dalam jaringan mobilitas regional.
Amalthea dirancang pada akhir 2024 sebagai koridor maritim sipil yang memungkinkan kargo yang telah diperiksa melewati jalur darat yang sering ditutup karena alasan keamanan. Sejak uji coba pertamanya pada Februari 2025, koridor ini telah menyalurkan lebih dari 27.000 ton bantuan kemanusiaan, dengan Siprus menyediakan fasilitas pergudangan, pemeriksaan keamanan, dan bea cukai. Dalam skema ini, kargo diperiksa terlebih dahulu di Limassol oleh tim gabungan petugas bea cukai Siprus, spesialis Frontex UE, dan personel keamanan Israel, sehingga proses bongkar muat di Ashdod dapat dilakukan tanpa pemeriksaan tambahan.
Bagi Siprus, proyek ini merupakan kemenangan diplomatik dan ekonomi. Pelabuhan Limassol mencatat peningkatan throughput sebesar 15 persen dibanding tahun sebelumnya, dan penyedia logistik seperti DP World dan Salamis Shipping telah membuka meja layanan khusus Amalthea. Menteri Luar Negeri Constantinos Kombos menegaskan bahwa inisiatif ini menunjukkan “nilai unik Siprus sebagai jembatan antara Eropa dan Timur Tengah” dan pemerintah sedang mempertimbangkan pendirian pusat logistik kemanusiaan permanen di dekat Vasilikos.
Manajer mobilitas dan penugasan perlu mencatat bahwa koridor ini beroperasi sesuai aturan bea cukai UE; prosedur ATA Carnet berlaku untuk barang ekspor sementara seperti generator dan peralatan medis. Perusahaan yang mengirim staf atau kargo melalui Limassol disarankan untuk memesan slot inspeksi sebelumnya dan memperhitungkan peningkatan langkah keamanan di sekitar pelabuhan. Kementerian Luar Negeri juga mengingatkan LSM bahwa semua personel yang transit ke Gaza harus memperoleh izin khusus dari otoritas Israel dan Palestina.
Dengan gangguan yang terus terjadi pada jalur darat tradisional akibat konflik di Gaza, Operasi Amalthea diperkirakan akan tetap menjadi jalur utama bagi aliran bantuan kemanusiaan dan komersial. Para analis memperkirakan Siprus akan memanfaatkan pengalaman ini untuk mengajukan koridor maritim serupa bagi Lebanon dan Suriah, semakin memperkuat relevansi strategisnya dalam jaringan mobilitas regional.
Sumber: In-Cyprus / Phileleftheros