
Mulai 25 Februari, penumpang yang bepergian dengan layanan Aer Lingus antara Irlandia dan Inggris Raya harus menunjukkan paspor yang berlaku atau kartu paspor Irlandia setelah maskapai tersebut memperketat aturan identifikasi yang sebelumnya menerima kartu bus, kartu tempat kerja, dan kartu pelajar. Perubahan kebijakan ini, yang dikonfirmasi dalam briefing pada 23 Februari, menyamakan aturan Aer Lingus dengan Ryanair, namun berbeda dengan British Airways yang masih menerima identitas foto alternatif untuk rute yang sama. Aer Lingus menyatakan bahwa penyamaan pemeriksaan dokumen di seluruh jaringannya akan mempermudah proses naik pesawat dan mengurangi masalah mendadak di gerbang keberangkatan. Namun, langkah ini secara efektif mengakhiri kemudahan perjalanan udara tanpa paspor dalam Common Travel Area (CTA) bagi banyak warga Irlandia dan Inggris. Operator feri di Laut Irlandia tetap menerima identitas lain. Konsultan perjalanan memperingatkan kemungkinan kebingungan karena British Airways memasarkan penerbangan kode bersama Aer Lingus di ba.com; penumpang yang tidak waspada bisa tiba di bandara tanpa paspor dan ditolak naik pesawat. Perusahaan dengan karyawan yang sering bepergian antara Dublin dan London atau basis regional di Inggris harus segera memperbarui panduan pemesanan internal dan memeriksa kepatuhan staf. Keputusan ini memperkuat perdebatan apakah sektor penerbangan mengikis informalitas CTA seiring meningkatnya standar keamanan. Juru bicara Pemerintah Irlandia menegaskan tidak ada “persyaratan hukum” untuk paspor dalam perjalanan CTA, namun mengakui maskapai bebas menerapkan aturan yang lebih ketat. Dalam jangka panjang, kebijakan ini bisa meningkatkan permintaan kartu paspor Irlandia seharga €35, yang memenuhi standar ICAO dan diterima untuk perjalanan di EU/EEA. Tim pengadaan mungkin menemukan pengajuan kartu secara massal sebagai solusi hemat biaya bagi staf yang rutin terbang lintas kanal.
Sumber: The Independent