
Sebuah laporan mendalam yang diterbitkan oleh _Estado de Minas_ pada 18 Juni memperingatkan bahwa kontrak ekspatriasi yang disusun dengan buruk dapat membuat eksekutif Brasil menghadapi risiko pajak berganda, celah jaminan sosial, dan sengketa hukum ketenagakerjaan. Pengacara mobilitas Giovana Atarasi Jurca mencatat bahwa meskipun Undang-Undang Brasil No. 7.064/82 memberikan perlindungan ketenagakerjaan domestik di luar negeri, kontrak kerja multiyurisdiksi sering kali meninggalkan pertanyaan penting mengenai hukum yang berlaku tanpa jawaban jelas. Contohnya adalah rencana opsi saham: tanpa penyesuaian pajak yang eksplisit, keuntungan bisa dikenakan pajak baik di tempat pemberian maupun tempat pelaksanaan, sehingga mengurangi nilai insentif hingga 48%. Demikian pula, eksekutif yang ditempatkan di negara tanpa perjanjian jaminan sosial bilateral berisiko kehilangan kredit pensiun kecuali pemberi kerja di Brasil terus melakukan kontribusi INSS. Artikel ini merekomendasikan empat pilar kontraktual—pemeliharaan ikatan kerja Brasil, penyesuaian fiskal, kelanjutan pembayaran jaminan sosial, dan jaminan ketentuan repatriasi—untuk melindungi keamanan finansial jangka panjang para pekerja yang ditugaskan. Bagi perusahaan, ini menjadi pengingat penting untuk mengaudit kebijakan mobilitas global sebelum putaran persetujuan anggaran pada bulan September. HR harus memastikan surat penugasan merujuk pada Konvensi Apostille Den Haag untuk pengakuan dokumen dan bahwa penggajian global mampu menangani pemotongan pajak dalam berbagai mata uang.
Sumber: Estado de Minas