
Data pariwisata terbaru yang dirilis pada 16 Juli menunjukkan Hong Kong menyambut 3,72 juta pengunjung pada bulan Juni, naik 7% dibanding tahun sebelumnya, meski kedatangan dari pasar Asia terdekat menurun tajam. Dewan Pariwisata Hong Kong menyebut dua tantangan utama: penguatan dolar Hong Kong yang naik 9% terhadap banyak mata uang regional, dan harga bahan bakar jet yang tinggi akibat konflik di Timur Tengah, yang memaksa maskapai seperti AirAsia mengurangi kapasitas penerbangan. Kedatangan jarak pendek dari luar daratan utama—meliputi Jepang, Korea Selatan, Asia Tenggara, dan Taiwan—turun 15% menjadi 561.000. Sebaliknya, lalu lintas jarak jauh dari Eropa dan Amerika Utara meningkat 16% seiring maskapai mengaktifkan kembali rute yang mendukung kargo di perut pesawat. Pengunjung dari daratan utama China tetap mendominasi dengan 2,88 juta kedatangan, naik 10%, didukung oleh promosi kereta cepat dan kampanye belanja bebas bea. Bagi perusahaan multinasional, angka ini menunjukkan jalur pemulihan yang berbeda-beda. Tim penjualan regional yang mengandalkan perjalanan singkat dari Bangkok atau Manila mungkin menghadapi biaya tiket lebih tinggi dan jadwal yang lebih terbatas hingga kuartal ketiga. Manajer perjalanan disarankan mengunci tarif korporat lebih awal dan memantau pengumuman biaya tambahan—Cathay Pacific sudah memberi sinyal akan ada peninjauan lagi pada Agustus. Data ini juga memengaruhi kebijakan pemerintah. Pejabat pariwisata mengisyaratkan insentif terarah—seperti pendanaan perdagangan perjalanan dan pengembalian biaya bandara—untuk maskapai jarak pendek guna mengembalikan pasokan kursi. Antrian imigrasi tetap di bawah puncak 2024 berkat perluasan pendaftaran e-Channel pengunjung yang diperkenalkan Februari lalu. Saran praktis: departemen HR yang mengelola penugasan rotasi dari pusat ASEAN sebaiknya memperluas jendela koneksi dan mendorong staf mendaftar biometrik lebih awal untuk mempercepat proses kedatangan selama periode kapasitas terbatas.
Sumber: South China Morning Post