
Ribuan penumpang di seluruh China mengalami kekacauan tak terduga pada 14–15 Desember setelah China Eastern Airlines membatalkan 20 penerbangan dan menunda hampir 300 penerbangan lainnya, menurut data real-time dari FlightAware. Gangguan ini berdampak pada pusat-pusat utama seperti Shanghai Pudong, Beijing Capital, Chengdu Tianfu, dan Guangzhou Baiyun, yang kemudian menyebar ke kota-kota sekunder dari Haikou hingga Xi’an.
Ketidakteraturan operasional terjadi pada pesawat Airbus keluarga A320 dan Boeing 737, yang menunjukkan masalah sistemik dalam penjadwalan atau ketersediaan kru, bukan karena kerusakan teknis tunggal. China Eastern belum memberikan penjelasan resmi, namun para pakar industri menyebut kombinasi cuaca musim dingin, pemanfaatan pesawat yang ketat, dan kekurangan kru akibat pemutusan hubungan kerja selama pandemi sebagai penyebab utama.
Bagi pelancong bisnis, dampaknya langsung terasa: kehilangan koneksi penerbangan internasional, waktu rapat yang terbuang, dan jadwal proyek yang terganggu menjelang periode libur akhir tahun. Hotel di sekitar Shanghai Hongqiao melaporkan lonjakan okupansi karena penumpang yang terdampar mencari penginapan semalam; tarif ojek online di Beijing Daxing melonjak dua kali lipat akibat kenaikan harga saat permintaan tinggi.
Manajer mobilitas disarankan untuk menyiapkan cadangan waktu perjalanan selama puncak musim liburan di China. Tim pengadaan sebaiknya meninjau klausul kinerja maskapai dan mempertimbangkan sumber ganda untuk sektor domestik penting dengan kereta cepat atau maskapai alternatif seperti Hainan Airlines dan Spring Airlines. Penumpang yang terdampak dianjurkan menyimpan boarding pass dan pemberitahuan penundaan, karena aturan perlindungan konsumen China mewajibkan maskapai memberikan kompensasi atau pengaturan ulang penerbangan.
Kejadian ini menyoroti tantangan yang lebih luas: meskipun pasar penerbangan China pulih pesat—kapasitas kursi domestik kini mencapai 110 persen dari level 2019—maskapai masih menghadapi kendala kru dan pemeliharaan. Kebijakan perjalanan korporat yang berlaku sebelum pandemi mungkin perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan kondisi operasional yang lebih rentan.
Ketidakteraturan operasional terjadi pada pesawat Airbus keluarga A320 dan Boeing 737, yang menunjukkan masalah sistemik dalam penjadwalan atau ketersediaan kru, bukan karena kerusakan teknis tunggal. China Eastern belum memberikan penjelasan resmi, namun para pakar industri menyebut kombinasi cuaca musim dingin, pemanfaatan pesawat yang ketat, dan kekurangan kru akibat pemutusan hubungan kerja selama pandemi sebagai penyebab utama.
Bagi pelancong bisnis, dampaknya langsung terasa: kehilangan koneksi penerbangan internasional, waktu rapat yang terbuang, dan jadwal proyek yang terganggu menjelang periode libur akhir tahun. Hotel di sekitar Shanghai Hongqiao melaporkan lonjakan okupansi karena penumpang yang terdampar mencari penginapan semalam; tarif ojek online di Beijing Daxing melonjak dua kali lipat akibat kenaikan harga saat permintaan tinggi.
Manajer mobilitas disarankan untuk menyiapkan cadangan waktu perjalanan selama puncak musim liburan di China. Tim pengadaan sebaiknya meninjau klausul kinerja maskapai dan mempertimbangkan sumber ganda untuk sektor domestik penting dengan kereta cepat atau maskapai alternatif seperti Hainan Airlines dan Spring Airlines. Penumpang yang terdampak dianjurkan menyimpan boarding pass dan pemberitahuan penundaan, karena aturan perlindungan konsumen China mewajibkan maskapai memberikan kompensasi atau pengaturan ulang penerbangan.
Kejadian ini menyoroti tantangan yang lebih luas: meskipun pasar penerbangan China pulih pesat—kapasitas kursi domestik kini mencapai 110 persen dari level 2019—maskapai masih menghadapi kendala kru dan pemeliharaan. Kebijakan perjalanan korporat yang berlaku sebelum pandemi mungkin perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan kondisi operasional yang lebih rentan.
Sumber: Travel and Tour World