
Annie, seorang wanita Inggris berusia 53 tahun yang tinggal di Belanda, mengira paspor Belanda-nya bisa digunakan untuk terbang pulang saat paspor Inggrisnya sedang diperpanjang. Namun, pada 20 Februari, dia mengetahui bahwa mulai 25 Februari, warga negara ganda harus menunjukkan paspor Inggris (atau Irlandia)—atau Sertifikat Hak Senilai £589—kepada maskapai sebelum naik pesawat ke Inggris. Aturan ini merupakan bagian dari upaya Inggris menuju perbatasan digital penuh, seiring peluncuran Electronic Travel Authorisations (ETA) untuk warga negara bebas visa dan e-visa untuk lainnya. Karena warga Inggris tidak bisa mengajukan ETA, warga negara ganda tanpa paspor Inggris yang berlaku kini dikategorikan sebagai penumpang asing tanpa visa, dan maskapai bisa didenda jika mengangkut mereka. Mantan sekretaris Brexit, David Davis, menulis surat kepada Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood meminta masa tenggang, menyebut kebijakan ini sebagai “hambatan yang tidak dapat diterima terhadap hak warga negara untuk pulang.” Partai Liberal Demokrat juga mendukung permintaan ini, memperingatkan ratusan warga Inggris di luar negeri bisa melewatkan keadaan darurat keluarga atau bahkan pemakaman saat menunggu proses perpanjangan paspor di HM Passport Office yang seringkali melebihi standar layanan tiga minggu. Maskapai pun bergegas memperbarui sistem mereka. Beberapa, termasuk British Airways dan easyJet, mengatakan mungkin menerima paspor Inggris yang sudah kedaluwarsa bersama paspor asing yang masih berlaku, tapi hanya sampai panduan tanggung jawab maskapai jelas. Manajer risiko perjalanan disarankan untuk mengingatkan staf berkewarganegaraan ganda agar segera memeriksa masa berlaku paspor dan mempertimbangkan layanan perpanjangan cepat jika tersedia. Dalam jangka panjang, aturan ini dikhawatirkan akan mempersulit penugasan pekerja komuter di Eropa. Karyawan berkewarganegaraan ganda yang bolak-balik antara Amsterdam dan London, misalnya, harus membawa dua paspor dan memantau siklus perpanjangan dengan ketat—menambah beban administrasi pada perpindahan antarperusahaan yang seharusnya mudah.
Sumber: The Guardian