
Sementara Inggris bersiap menghadapi lonjakan perjalanan bisnis saat Paskah, Bandara London Heathrow mengalami gangguan baru pada 28 Februari 2026. Menurut buletin real-time CGTN, sejumlah kecil penerbangan dibatalkan atau mengalami keterlambatan parah setelah beberapa negara Timur Tengah menutup sebagian wilayah udaranya sebagai respons atas serangan AS dan Israel terhadap fasilitas Iran sebelumnya hari itu. Meskipun angka utama—sekitar 4% dari jadwal harian Heathrow—terdengar kecil, dampaknya cukup besar bagi para pelancong bisnis. Pembatalan ini terutama terjadi pada rute jarak jauh ke Teluk, India, dan Asia Tenggara. Dengan tingkat keterisian yang mencapai angka tertinggi sejak pandemi, pengaturan ulang penerbangan pada hari yang sama hampir mustahil; penumpang harus dialihkan melalui hub kontinental yang juga mengalami keterlambatan berantai. Berdasarkan regulasi UK EU261, maskapai wajib menawarkan pengembalian dana atau alternatif transportasi, namun insiden ini menunjukkan betapa rumitnya kepatuhan di era perbatasan digital. Pelancong dengan e-Visa atau ETA Inggris yang baru diterbitkan menemukan bahwa pemesanan ulang melalui titik transit kedua kadang memicu kesalahan kecocokan paspor dalam sistem maskapai. Perusahaan manajemen perjalanan melaporkan peningkatan panggilan dari eksekutif yang terjebak di lokasi luar karena rencana perjalanan pengganti terblokir hingga detail akun UKVI mereka diperbarui. Masalah rantai pasok juga muncul. Beberapa kiriman farmasi yang dikontrol suhunya gagal terhubung melalui European Pharmaceutical Hub di Heathrow. Pengirim barang mendesak Otoritas Penerbangan Sipil untuk membentuk gugus tugas industri terkait rute darurat bagi barang kritis saat titik panas geopolitik menutup wilayah udara secara mendadak. Bagi manajer mobilitas, pelajaran yang diambil jelas: sediakan waktu ekstra dalam jadwal perjalanan ke Asia saat ketegangan Timur Tengah meningkat, pastikan karyawan tahu cara mengakses akun e-Visa mereka untuk memeriksa keterkaitan paspor, dan pantau terus NOTAM (Pemberitahuan untuk Pilot) yang dapat memengaruhi rute penerbangan. Sementara itu, maskapai terus mendorong percepatan penerapan reformasi Informasi Penumpang Lanjutan yang direncanakan Pemerintah Inggris agar pemeriksaan status digital dapat dilakukan ulang secara instan saat tiket diterbitkan kembali.
Sumber: CGTN