
Kabut tebal musim dingin melanda wilayah Utara dan Tengah India pada malam 15-16 Desember, menyebabkan jarak pandang di Bandara Internasional Indira Gandhi (IGI) Delhi hampir nol selama beberapa jam. Pejabat bandara melaporkan 228 penerbangan berangkat dan tiba dibatalkan serta lebih dari 800 penerbangan tertunda, membuat ribuan penumpang terjebak di dalam terminal dan memaksa maskapai mengalihkan pesawat ke bandara alternatif seperti Jaipur dan Ahmedabad.
Gangguan ini berdampak pada seluruh jaringan domestik. IndiGo – maskapai terbesar di India – membatalkan lebih dari 50 penerbangan di seluruh sistem dan mengeluarkan peringatan pagi hari agar penumpang tidak datang ke bandara tanpa memastikan status penerbangan terlebih dahulu. Vistara, Air India, dan SpiceJet mengikuti langkah serupa, memperingatkan penundaan bergilir sepanjang hari saat operasi “perlahan pulih” setelah jarak pandang membaik.
Sistem pendaratan instrumen CAT-III-B di IGI secara teknis mampu beroperasi dengan jarak pandang landasan hingga 50 meter, namun pejabat maskapai menyebut keterbatasan kru, kemacetan di gerbang, dan penundaan berantai di bandara lain membuat pembatalan besar-besaran tak terhindarkan. Layanan kereta api menuju ibu kota juga mengalami keterlambatan, menambah kekacauan perjalanan bagi pelaku bisnis yang hendak menghadiri rapat hari Senin.
Bagi manajer mobilitas korporat, kejadian ini menjadi pengingat penting untuk menyediakan buffer kontinjensi dalam kebijakan perjalanan musim dingin di India Utara. Perusahaan dengan jadwal proyek ketat disarankan memesan tiket fleksibel atau mempertimbangkan rute staf penting melalui Bengaluru, Hyderabad, atau Mumbai, di mana jarak pandang masih aman. Para pelaku bisnis yang mengadakan pertemuan di pusat teknologi Gurgaon dianjurkan beralih ke pertemuan virtual atau menjadwal ulang penerbangan ke sore hari saat kabut biasanya mulai menghilang.
Badan Meteorologi India memprediksi gelombang kabut tebal lain akan terjadi akhir pekan ini. Maskapai telah mulai membatalkan beberapa penerbangan pagi hari secara proaktif untuk mengurangi gangguan di hari yang sama. Tim mobilitas disarankan mengirimkan peringatan real-time dan mendorong eksekutif memberi waktu buffer minimal enam jam saat menghubungkan penerbangan internasional lanjutan.
Gangguan ini berdampak pada seluruh jaringan domestik. IndiGo – maskapai terbesar di India – membatalkan lebih dari 50 penerbangan di seluruh sistem dan mengeluarkan peringatan pagi hari agar penumpang tidak datang ke bandara tanpa memastikan status penerbangan terlebih dahulu. Vistara, Air India, dan SpiceJet mengikuti langkah serupa, memperingatkan penundaan bergilir sepanjang hari saat operasi “perlahan pulih” setelah jarak pandang membaik.
Sistem pendaratan instrumen CAT-III-B di IGI secara teknis mampu beroperasi dengan jarak pandang landasan hingga 50 meter, namun pejabat maskapai menyebut keterbatasan kru, kemacetan di gerbang, dan penundaan berantai di bandara lain membuat pembatalan besar-besaran tak terhindarkan. Layanan kereta api menuju ibu kota juga mengalami keterlambatan, menambah kekacauan perjalanan bagi pelaku bisnis yang hendak menghadiri rapat hari Senin.
Bagi manajer mobilitas korporat, kejadian ini menjadi pengingat penting untuk menyediakan buffer kontinjensi dalam kebijakan perjalanan musim dingin di India Utara. Perusahaan dengan jadwal proyek ketat disarankan memesan tiket fleksibel atau mempertimbangkan rute staf penting melalui Bengaluru, Hyderabad, atau Mumbai, di mana jarak pandang masih aman. Para pelaku bisnis yang mengadakan pertemuan di pusat teknologi Gurgaon dianjurkan beralih ke pertemuan virtual atau menjadwal ulang penerbangan ke sore hari saat kabut biasanya mulai menghilang.
Badan Meteorologi India memprediksi gelombang kabut tebal lain akan terjadi akhir pekan ini. Maskapai telah mulai membatalkan beberapa penerbangan pagi hari secara proaktif untuk mengurangi gangguan di hari yang sama. Tim mobilitas disarankan mengirimkan peringatan real-time dan mendorong eksekutif memberi waktu buffer minimal enam jam saat menghubungkan penerbangan internasional lanjutan.
Sumber: Hindustan Times / Times of India