
Para profesional dan wisatawan India yang berharap bepergian ke Amerika Serikat kini menghadapi hambatan baru yang sering kali tidak transparan: pemeriksaan media sosial yang diperketat. Menurut pengacara dan perusahaan fasilitasi visa yang diwawancarai oleh Times of India, petugas konsuler secara signifikan meningkatkan penggunaan pemberitahuan “penolakan sementara” berdasarkan pasal 221(g) sejak Mei 2025, ketika Departemen Luar Negeri diam-diam memperluas tinjauan wajib terhadap aktivitas online pelamar. Pada 25 Januari, surat kabar tersebut melaporkan bahwa tingkat penerbitan 221(g) di misi AS di India melonjak ke level tertinggi dalam satu dekade, dengan beberapa pekerja H-1B dan pengunjung B-1/B-2 menunggu berbulan-bulan untuk pemeriksaan latar belakang tambahan.
Berdasarkan pasal 221(g), sebuah kasus tidak disetujui maupun ditolak; melainkan dimasukkan ke dalam “proses administratif” agar petugas dapat meminta sertifikat kepolisian, laporan toksikologi, atau penjelasan rinci tentang postingan media sosial masa lalu. Pengacara imigrasi mengatakan bahwa bahkan pelamar dengan visa sebelumnya yang banyak pun bisa terkena tanda jika algoritma mendeteksi kata kunci yang dianggap sensitif keamanan. Bukti anekdotal menunjukkan tingkat penolakan lebih tinggi bagi mereka yang pernah ditangkap—meskipun pelanggaran sudah dihapus—atau yang tergabung dalam grup WhatsApp atau Telegram besar.
Penundaan ini berdampak nyata pada bisnis. India menyuplai lebih dari 70 persen tenaga kerja H-1B, dan banyak karyawan yang rutin pulang untuk proses cap visa. Proses yang lama membuat pekerja terjebak di luar negeri, mengganggu proyek klien, dan memicu biaya tambahan untuk penjadwalan ulang penerbangan dan akomodasi. Beberapa perusahaan AS kini menganjurkan agar perjalanan yang tidak penting ditunda atau mengatur janji visa di negara ketiga—meskipun opsi ini semakin terbatas karena kebijakan pembebasan wawancara yang diperketat.
Para pemberi kerja disarankan untuk mengingatkan para pelancong agar membersihkan profil media sosial publik dari konten kontroversial, mengumpulkan bukti dokumen (misalnya, putusan pengadilan, surat keterangan kerja) sebelumnya, dan memberi jarak minimal delapan minggu antara janji visa dan tanggal kepulangan ke AS yang direncanakan. Dari sisi kebijakan, situasi ini menggambarkan ketegangan yang meningkat antara pemeriksaan keamanan nasional dan kebutuhan Amerika akan tenaga kerja terampil tinggi; kecuali waktu proses stabil, perusahaan mungkin mempercepat pemindahan operasi ke pasar pesaing seperti Kanada dan Inggris.
Sementara itu, pelancong yang terdampak dapat memantau status kasus mereka melalui situs CEAC, merespons permintaan dokumen konsuler dengan cepat, dan meminta bantuan kongres jika penundaan melebihi 180 hari.
Berdasarkan pasal 221(g), sebuah kasus tidak disetujui maupun ditolak; melainkan dimasukkan ke dalam “proses administratif” agar petugas dapat meminta sertifikat kepolisian, laporan toksikologi, atau penjelasan rinci tentang postingan media sosial masa lalu. Pengacara imigrasi mengatakan bahwa bahkan pelamar dengan visa sebelumnya yang banyak pun bisa terkena tanda jika algoritma mendeteksi kata kunci yang dianggap sensitif keamanan. Bukti anekdotal menunjukkan tingkat penolakan lebih tinggi bagi mereka yang pernah ditangkap—meskipun pelanggaran sudah dihapus—atau yang tergabung dalam grup WhatsApp atau Telegram besar.
Penundaan ini berdampak nyata pada bisnis. India menyuplai lebih dari 70 persen tenaga kerja H-1B, dan banyak karyawan yang rutin pulang untuk proses cap visa. Proses yang lama membuat pekerja terjebak di luar negeri, mengganggu proyek klien, dan memicu biaya tambahan untuk penjadwalan ulang penerbangan dan akomodasi. Beberapa perusahaan AS kini menganjurkan agar perjalanan yang tidak penting ditunda atau mengatur janji visa di negara ketiga—meskipun opsi ini semakin terbatas karena kebijakan pembebasan wawancara yang diperketat.
Para pemberi kerja disarankan untuk mengingatkan para pelancong agar membersihkan profil media sosial publik dari konten kontroversial, mengumpulkan bukti dokumen (misalnya, putusan pengadilan, surat keterangan kerja) sebelumnya, dan memberi jarak minimal delapan minggu antara janji visa dan tanggal kepulangan ke AS yang direncanakan. Dari sisi kebijakan, situasi ini menggambarkan ketegangan yang meningkat antara pemeriksaan keamanan nasional dan kebutuhan Amerika akan tenaga kerja terampil tinggi; kecuali waktu proses stabil, perusahaan mungkin mempercepat pemindahan operasi ke pasar pesaing seperti Kanada dan Inggris.
Sementara itu, pelancong yang terdampak dapat memantau status kasus mereka melalui situs CEAC, merespons permintaan dokumen konsuler dengan cepat, dan meminta bantuan kongres jika penundaan melebihi 180 hari.
Sumber: Times of India
Bagaimana VisaHQ dapat membantu
VisaHQ menyederhanakan proses pengajuan visa bagi perorangan dan perusahaan. Periksa persyaratan perjalanan terkini, siapkan dokumen yang diperlukan, dan kelola pengajuan Anda secara online melalui portal VisaHQ untuk Amerika Serikat.Lebih Banyak Dari Amerika Serikat
Lihat semua
Slot Wawancara H-1B di India Ditunda hingga 2027 karena Aturan Baru AS dan Penumpukan Permohonan Berbenturan
Badai Musim Dingin Fern Batalkan Lebih dari 10.000 Penerbangan di AS, Picu Pembebasan Biaya Maskapai di Seluruh Negeri