
Bandara Brussels menghela napas lega pada Selasa pagi, 16 Juni 2026, setelah perusahaan penanganan darat Aviapartner membatalkan mogok kerja mendadak selama 24 jam yang sempat melumpuhkan proses check-in dan boarding puluhan penerbangan sehari sebelumnya. Pejabat bandara mengonfirmasi bahwa seluruh staf Aviapartner kembali bertugas setelah pertemuan mediasi semalam dengan perwakilan serikat pekerja. Sekitar 60 keberangkatan—melayani maskapai seperti Ryanair, TUI fly, British Airways, dan Iberia—terlambat atau dialihkan pada hari Senin, membuat ribuan pelancong bisnis dan wisata terjebak di puncak musim liburan musim panas Belgia. Para pakar industri menyebut mogok ini dipicu oleh keluhan yang sudah lama terpendam terkait beban kerja, skala gaji, dan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan operasional. Meski bandara sudah kembali beroperasi normal, serikat pekerja ACV Puls dan BBTK memperingatkan kemungkinan aksi lanjutan jika kesepakatan jangka panjang mengenai jumlah staf dan indeksasi upah tidak tercapai. Bagi perusahaan yang mengandalkan jadwal perjalanan ketat melalui Brussels, kejadian ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rantai pasok penerbangan dan pentingnya rencana darurat—terutama untuk perpindahan ekspatriat yang dijadwalkan sesuai tenggat tahun fiskal. Aviapartner menangani sekitar setengah layanan darat bandara, sehingga setiap gangguan tenaga kerja berdampak besar pada konektivitas hub-and-spoke Belgia. Dalam beberapa bulan terakhir, bandara-bandara Eropa menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat rebound pasca-pandemi dan aturan kontrol perbatasan UE yang lebih ketat. Analis mencatat bahwa Sistem Masuk/Keluar baru Belgia (EES), yang memindai penumpang non-UE, sudah memperpanjang waktu proses; ketika ditambah kekurangan staf, bahkan gangguan singkat pun berdampak luas di jaringan Schengen. Bagi manajer mobilitas global, pelajaran utamanya dua: sisipkan waktu cadangan dalam jadwal perjalanan yang melibatkan Belgia dan komunikasikan lebih awal dengan staf yang akan pindah mengenai potensi keterlambatan. Perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Brussels—markas UE dan NATO—juga disarankan meninjau kembali perjanjian layanan dengan mitra relokasi untuk memastikan kapasitas penanganan darat alternatif tersedia saat terjadi aksi industri. Meski penyelesaian cepat Selasa ini disambut baik, sengketa tenaga kerja yang mendasari masih belum tuntas, membuka peluang gangguan baru di musim panas ini.
Sumber: The Brussels Times