
Kementerian Dalam Negeri Federal telah mengonfirmasi bahwa persyaratan gaji minimum tahunan untuk Kartu Biru Uni Eropa Jerman naik menjadi €50.700 bruto mulai 1 Januari 2026, dengan ambang batas yang lebih rendah sebesar €45.934,20 berlaku untuk pekerjaan yang kekurangan tenaga, lulusan baru, dan profesional TI yang memenuhi syarat. Angka-angka ini, yang dipublikasikan pada 15 Januari, mencerminkan mekanisme indeksasi hukum yang mengaitkan gaji Kartu Biru dengan 50 persen (atau 45,3 persen untuk pekerjaan yang kekurangan tenaga) dari batas atas asuransi pensiun nasional.
Kenaikan ini—sekitar 5 persen dibandingkan tingkat 2025—berarti para pemberi kerja harus meninjau kembali kontrak kerja, surat penugasan, dan tunjangan penempatan untuk semua aplikasi yang diajukan mulai bulan ini. Tim HR didorong untuk memastikan bahwa pembayaran khusus seperti bonus dan gaji bulan ke-13 secara eksplisit dihitung dalam nilai bruto agar dapat dihitung dalam ambang batas.
Meskipun Kartu Biru tetap menjadi jalur utama Jerman untuk mendatangkan talenta berpendidikan universitas, perusahaan yang bersaing untuk staf teknik dan TI tingkat menengah khawatir kenaikan batas minimum ini akan membuat kandidat dengan skala gaji global sulit bersaing. Konsultan imigrasi menyebutkan bahwa “kartu peluang” (Chancenkarte) yang direncanakan pada pertengahan 2026 bisa menampung sebagian permintaan tersebut, namun aturan finalnya masih menunggu keputusan.
Dari sisi kepatuhan, otoritas imigrasi setempat (Ausländerbehörden) mulai menolak aplikasi yang merujuk pada tingkat gaji lama, meskipun kontrak kerja dibuat sebelum tahun baru, karena Undang-Undang Kependudukan menetapkan ambang batas berdasarkan tanggal mulai kerja yang direncanakan. Oleh karena itu, pemberi kerja perlu mengeluarkan adendum kontrak atau mengajukan izin alternatif jika paket gaji tidak memenuhi syarat.
Bagi manajer mobilitas global, perubahan ini menegaskan pentingnya perencanaan anggaran sejak awal dan koordinasi dengan tim kompensasi: keluarga beranggotakan empat orang yang pindah dengan Kartu Biru kini juga harus memperhitungkan biaya tambahan yang lebih tinggi untuk jaminan sosial, perumahan, dan pendidikan di kota-kota besar Jerman yang berbiaya tinggi.
Kenaikan ini—sekitar 5 persen dibandingkan tingkat 2025—berarti para pemberi kerja harus meninjau kembali kontrak kerja, surat penugasan, dan tunjangan penempatan untuk semua aplikasi yang diajukan mulai bulan ini. Tim HR didorong untuk memastikan bahwa pembayaran khusus seperti bonus dan gaji bulan ke-13 secara eksplisit dihitung dalam nilai bruto agar dapat dihitung dalam ambang batas.
Meskipun Kartu Biru tetap menjadi jalur utama Jerman untuk mendatangkan talenta berpendidikan universitas, perusahaan yang bersaing untuk staf teknik dan TI tingkat menengah khawatir kenaikan batas minimum ini akan membuat kandidat dengan skala gaji global sulit bersaing. Konsultan imigrasi menyebutkan bahwa “kartu peluang” (Chancenkarte) yang direncanakan pada pertengahan 2026 bisa menampung sebagian permintaan tersebut, namun aturan finalnya masih menunggu keputusan.
Dari sisi kepatuhan, otoritas imigrasi setempat (Ausländerbehörden) mulai menolak aplikasi yang merujuk pada tingkat gaji lama, meskipun kontrak kerja dibuat sebelum tahun baru, karena Undang-Undang Kependudukan menetapkan ambang batas berdasarkan tanggal mulai kerja yang direncanakan. Oleh karena itu, pemberi kerja perlu mengeluarkan adendum kontrak atau mengajukan izin alternatif jika paket gaji tidak memenuhi syarat.
Bagi manajer mobilitas global, perubahan ini menegaskan pentingnya perencanaan anggaran sejak awal dan koordinasi dengan tim kompensasi: keluarga beranggotakan empat orang yang pindah dengan Kartu Biru kini juga harus memperhitungkan biaya tambahan yang lebih tinggi untuk jaminan sosial, perumahan, dan pendidikan di kota-kota besar Jerman yang berbiaya tinggi.