
Pada sidang pleno ke-63 Bundestag tanggal 6 Maret 2026, para anggota parlemen membahas usulan dari Alternative für Deutschland (AfD) berjudul “Perubahan Migrasi Sejati Memerlukan Kebijakan Kewarganegaraan yang Direformasi.” Usulan tersebut menuntut persyaratan tinggal yang lebih lama, penghapusan kewarganegaraan ganda bagi sebagian besar pemohon, serta tes bahasa Jerman wajib yang dilakukan oleh lembaga negara, bukan institusi swasta. Pelapor komite dalam koalisi pemerintahan CDU/SPD langsung menolak usulan ini, dengan alasan bahwa hal tersebut akan melemahkan Undang-Undang Imigrasi Tenaga Kerja Terampil Jerman—reformasi yang bertujuan mempercepat proses naturalisasi bagi tenaga kerja yang dibutuhkan dan membantu perusahaan mengisi 400.000 posisi lowong. Pembicara dari partai Hijau dan FDP menambahkan bahwa kewarganegaraan ganda kini sudah menjadi “praktik standar di pasar tenaga kerja yang terglobalisasi.” Meskipun usulan ini dirujuk ke komite tanpa debat lanjutan, kemunculannya menyoroti polarisasi politik terkait kewarganegaraan. Upaya AfD untuk memperlambat naturalisasi bertolak belakang dengan rancangan undang-undang koalisi—yang diperkirakan akan diajukan sebelum masa reses musim panas—yang akan mengurangi masa tunggu dari delapan menjadi lima tahun dan mengizinkan paspor ganda dalam sebagian besar kasus. Bagi para pengusaha, perseteruan parlemen ini menandakan risiko sekaligus peluang. Koalisi masih memegang mayoritas untuk meliberalisasi kewarganegaraan, yang berpotensi membuat Jerman lebih menarik bagi pekerja jangka panjang. Namun, retorika yang memanas juga membuka kemungkinan adanya pembatasan kembali di masa depan jika kekuasaan politik bergeser di tingkat negara bagian atau federal. Manajer mobilitas sebaiknya menyesuaikan perencanaan jangka panjang dengan kalender legislatif ini dan mempersiapkan kampanye informasi bagi karyawan yang memenuhi syarat setelah aturan final disahkan.