
Maskapai penerbangan Teluk Etihad Airways membuat langkah paling berani di pasar Tiongkok hingga saat ini dengan mengumumkan pada 21 April bahwa mereka akan membuka layanan langsung dari Abu Dhabi ke Shanghai, Guangzhou, Hangzhou, Shenzhen, dan Chengdu. Peluncuran akan dilakukan dalam dua tahap mulai 1 Oktober 2026, memperluas jaringan Etihad di Tiongkok dari satu menjadi enam kota dan meningkatkan frekuensi mingguan menjadi 35 penerbangan. Secara strategis, ekspansi ini melengkapi ‘konstelasi’ Tiongkok yang memberikan Etihad cakupan di pusat keuangan timur negara itu (Shanghai), pusat ekspor selatan (Guangzhou dan Shenzhen), ibu kota e-commerce (Hangzhou), dan pusat teknologi barat (Chengdu).
Maskapai ini mengandalkan permintaan pariwisata yang tertahan dan perdagangan Emirat-Tiongkok yang semakin dalam—UAE sudah menjadi mitra Timur Tengah terbesar kedua bagi Tiongkok—untuk mengisi Boeing 787-9 Dreamliner mereka. Bagi bisnis Tiongkok, pengembangan ini menyediakan gerbang Teluk satu atap di luar hub tradisional Dubai. Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi menawarkan koneksi lanjutan tanpa hambatan ke Afrika dan Eropa melalui jaringan Etihad, sementara codeshare baru dengan China Eastern menjanjikan pasokan domestik Tiongkok.
Para pelaku logistik mengantisipasi kapasitas kargo udara baru, terutama melalui usaha patungan SF Airlines yang akan memprioritaskan paket e-commerce dan ekspor teknologi tinggi. Manajer mobilitas harus memantau jendela pemesanan dengan cermat: layanan Shanghai membuka penjualan tiket pada Mei, dengan tarif kontrak korporat yang diperkirakan sangat kompetitif dibandingkan Emirates dan Qatar pada rute kota yang tumpang tindih.
Warga Tiongkok yang menuju UAE sudah menikmati skema visa on arrival selama 30 hari; Etihad akan menawarkan paket imigrasi cepat dan hotel transit untuk menarik wisatawan sebelum Expo Dunia Dubai 2027. Dari sudut pandang geopolitik, langkah Etihad ini menegaskan upaya Abu Dhabi untuk memposisikan diri sebagai mega-hub netral yang menghubungkan Timur dan Barat. Perusahaan multinasional dapat memanfaatkan rute baru ini untuk mendiversifikasi transit dari hub Eropa yang padat, sementara provinsi-provinsi Tiongkok mendapatkan opsi baru untuk roadshow promosi investasi di Teluk.
Maskapai ini mengandalkan permintaan pariwisata yang tertahan dan perdagangan Emirat-Tiongkok yang semakin dalam—UAE sudah menjadi mitra Timur Tengah terbesar kedua bagi Tiongkok—untuk mengisi Boeing 787-9 Dreamliner mereka. Bagi bisnis Tiongkok, pengembangan ini menyediakan gerbang Teluk satu atap di luar hub tradisional Dubai. Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi menawarkan koneksi lanjutan tanpa hambatan ke Afrika dan Eropa melalui jaringan Etihad, sementara codeshare baru dengan China Eastern menjanjikan pasokan domestik Tiongkok.
Para pelaku logistik mengantisipasi kapasitas kargo udara baru, terutama melalui usaha patungan SF Airlines yang akan memprioritaskan paket e-commerce dan ekspor teknologi tinggi. Manajer mobilitas harus memantau jendela pemesanan dengan cermat: layanan Shanghai membuka penjualan tiket pada Mei, dengan tarif kontrak korporat yang diperkirakan sangat kompetitif dibandingkan Emirates dan Qatar pada rute kota yang tumpang tindih.
Warga Tiongkok yang menuju UAE sudah menikmati skema visa on arrival selama 30 hari; Etihad akan menawarkan paket imigrasi cepat dan hotel transit untuk menarik wisatawan sebelum Expo Dunia Dubai 2027. Dari sudut pandang geopolitik, langkah Etihad ini menegaskan upaya Abu Dhabi untuk memposisikan diri sebagai mega-hub netral yang menghubungkan Timur dan Barat. Perusahaan multinasional dapat memanfaatkan rute baru ini untuk mendiversifikasi transit dari hub Eropa yang padat, sementara provinsi-provinsi Tiongkok mendapatkan opsi baru untuk roadshow promosi investasi di Teluk.
Sumber: Nomad Lawyer