
Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Al Maktoum (DWC) kembali memulai operasi penumpang terbatas pada pagi 8 Maret, mengakhiri penghentian selama 24 jam akibat serangan rudal regional dan penutupan ruang udara secara menyeluruh. Bandara Dubai menegaskan bahwa hanya penumpang dengan *pemesanan terkonfirmasi* yang diperbolehkan masuk ke gedung terminal dan mengimbau warga untuk tidak mengantar atau menjemput di bandara guna mengurangi kemacetan. Emirates, flydubai, dan Etihad mengeluarkan jadwal penerbangan yang dipangkas serta membuka jendela kebijakan yang memungkinkan penumpang mengubah jadwal atau mengajukan pengembalian tiket yang dibeli sebelum 28 Februari tanpa denda. Meskipun penerbangan sudah beroperasi, kapasitas masih di bawah 50 persen. Meja check-in di kota dan layanan check-in dari rumah masih ditangguhkan, dan pesawat tetap menggunakan “koridor udara aman” yang disetujui oleh Otoritas Penerbangan Sipil Umum UAE. Bandara Sharjah, Ras Al Khaimah, dan Fujairah juga membuka beberapa layanan, terutama ke India dan negara-negara GCC. Bagi manajer mobilitas korporat, pelajaran utama adalah ketidakpastian: maskapai menyatakan jadwal bisa berubah mendadak jika negara tetangga kembali menutup ruang udara. Oleh karena itu, perusahaan disarankan memesan tiket dengan tarif fleksibel penuh, mengatur keberangkatan karyawan secara bergiliran, dan menyiapkan staf untuk tes PCR atau pemeriksaan keamanan yang bisa diberlakukan tanpa pemberitahuan. Tim HR yang memindahkan tenaga kerja ke UAE juga diingatkan bahwa masa berlaku visa masuk dihitung sejak *tanggal penerbitan asli*—karyawan dengan izin masuk yang diterbitkan 20 Februari harus mengaktifkannya dalam 60 hari, meski ada gangguan penerbangan. Penasihat imigrasi menyarankan untuk mengaktifkan izin secara online melalui layanan “ubah status” ICP jika perjalanan tidak memungkinkan. Dalam jangka panjang, analis memperkirakan kejadian ini akan mempercepat rencana diversifikasi operasi hub antara DXB dan mega-bandara Dubai South yang sedang dibangun, serta mempercepat protokol manajemen lalu lintas udara “koridor aman GCC” yang telah direncanakan sejak 2024.
Sumber: Gulf News