
Jaringan penerbangan internasional China kembali mengalami gangguan pekan ini. Data yang dikumpulkan oleh VariFlight dan dilaporkan oleh Travel Daily Media pada 16 April 2026 menunjukkan tingkat pembatalan rute asal China naik menjadi 15,1% untuk periode 13–19 April—setara dengan sekitar satu dari tujuh penerbangan yang dijadwalkan. Koridor yang paling terdampak menghubungkan Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen dengan pintu gerbang utama Asia Tenggara seperti Bangkok, Phuket, dan Kuala Lumpur. Maskapai berbiaya rendah Spring Airlines dan AirAsia telah menghapus hingga sepertiga dari kursi yang direncanakan, dengan alasan permintaan yang melemah dan harga bahan bakar jet yang meningkat.
Para analis menyebutkan tekanan ini merupakan hasil dari kombinasi faktor makroekonomi. Pertama, pelemahan yuan sebesar 4% terhadap dolar AS sejak Januari telah mengurangi daya beli wisatawan daratan, sementara hotel-hotel di Thailand dan Malaysia mulai mengurangi diskon. Kedua, minat perjalanan ke Jepang—yang selama ini menjadi pasar outbound terbesar kedua—masih lesu; 53 pasangan kota China-Jepang dihentikan total pada Maret dan pasokan kursi di rute yang tersisa turun hampir setengah dibanding tahun lalu. Dengan tarif penerbangan jarak jauh ke Eropa dan Amerika Utara yang masih tinggi, wisatawan China memiliki lebih sedikit alternatif terjangkau, sehingga mengurangi aliran penumpang bagi maskapai yang mengandalkan trafik wisata untuk menyeimbangkan permintaan korporat.
Di dalam negeri, maskapai domestik juga memangkas kapasitas. China Eastern pekan lalu menarik pesawat berbadan lebar dari tujuh rute utama dan mengalihkannya ke layanan charter bernilai tinggi yang terkait dengan Pameran Canton. Secara keseluruhan, kapasitas domestik yang dijadwalkan untuk akhir April kini 6% lebih rendah dari perkiraan internal yang dipublikasikan Januari lalu. Para pengamat industri memperingatkan bahwa penurunan permintaan baik outbound maupun domestik bisa menghambat pemulihan yang diprediksi banyak maskapai untuk puncak musim panas.
Manajer perjalanan bisnis harus memperhatikan dampak lanjutan ini. Pembatalan banyak terjadi pada penerbangan malam hari, yang biasanya dipilih korporat untuk memaksimalkan waktu kerja. Jika jadwal sangat penting, perusahaan mungkin perlu mengalihkan perjalanan ke kereta cepat di koridor pesisir China atau mengatur ulang rute melalui Hong Kong dan Makau, yang saat ini menunjukkan tingkat gangguan lebih rendah. Sementara itu, kebijakan tiket fleksibel yang diperkenalkan selama COVID—seperti pemesanan ulang gratis dalam 72 jam—secara diam-diam mulai dikurangi. Anggaran mobilitas harus memperhitungkan biaya perubahan yang lebih tinggi dan kemungkinan menginap semalam.
Dalam jangka panjang, ketidakpastian ini menegaskan pentingnya strategi multi-hub bagi maskapai China. Keputusan Air China untuk meluncurkan layanan baru dari Daxing ke Frankfurt dan Milan akhir bulan ini bisa menarik trafik premium yang beralih dari Delta Sungai Mutiara. Bagi maskapai asing, peluang untuk mendapatkan slot penerbangan di China menjelang musim dingin 2026-27 mungkin akan terbuka lebih lebar jika maskapai lokal melepaskan slot yang kurang menguntungkan. Namun dalam waktu dekat, tim HR dan relokasi harus bersiap menghadapi ketidakpastian yang berkelanjutan. VariFlight memperkirakan tingkat pembatalan akan tetap dua digit hingga pekan Hari Buruh karena maskapai menyeimbangkan armada dan harga minyak tetap di atas US$90 per barel. Pemantauan jadwal secara proaktif dan alat pelacak perjalanan akan sangat penting untuk menjaga agar karyawan dan tim proyek tetap tepat waktu.
Para analis menyebutkan tekanan ini merupakan hasil dari kombinasi faktor makroekonomi. Pertama, pelemahan yuan sebesar 4% terhadap dolar AS sejak Januari telah mengurangi daya beli wisatawan daratan, sementara hotel-hotel di Thailand dan Malaysia mulai mengurangi diskon. Kedua, minat perjalanan ke Jepang—yang selama ini menjadi pasar outbound terbesar kedua—masih lesu; 53 pasangan kota China-Jepang dihentikan total pada Maret dan pasokan kursi di rute yang tersisa turun hampir setengah dibanding tahun lalu. Dengan tarif penerbangan jarak jauh ke Eropa dan Amerika Utara yang masih tinggi, wisatawan China memiliki lebih sedikit alternatif terjangkau, sehingga mengurangi aliran penumpang bagi maskapai yang mengandalkan trafik wisata untuk menyeimbangkan permintaan korporat.
Di dalam negeri, maskapai domestik juga memangkas kapasitas. China Eastern pekan lalu menarik pesawat berbadan lebar dari tujuh rute utama dan mengalihkannya ke layanan charter bernilai tinggi yang terkait dengan Pameran Canton. Secara keseluruhan, kapasitas domestik yang dijadwalkan untuk akhir April kini 6% lebih rendah dari perkiraan internal yang dipublikasikan Januari lalu. Para pengamat industri memperingatkan bahwa penurunan permintaan baik outbound maupun domestik bisa menghambat pemulihan yang diprediksi banyak maskapai untuk puncak musim panas.
Manajer perjalanan bisnis harus memperhatikan dampak lanjutan ini. Pembatalan banyak terjadi pada penerbangan malam hari, yang biasanya dipilih korporat untuk memaksimalkan waktu kerja. Jika jadwal sangat penting, perusahaan mungkin perlu mengalihkan perjalanan ke kereta cepat di koridor pesisir China atau mengatur ulang rute melalui Hong Kong dan Makau, yang saat ini menunjukkan tingkat gangguan lebih rendah. Sementara itu, kebijakan tiket fleksibel yang diperkenalkan selama COVID—seperti pemesanan ulang gratis dalam 72 jam—secara diam-diam mulai dikurangi. Anggaran mobilitas harus memperhitungkan biaya perubahan yang lebih tinggi dan kemungkinan menginap semalam.
Dalam jangka panjang, ketidakpastian ini menegaskan pentingnya strategi multi-hub bagi maskapai China. Keputusan Air China untuk meluncurkan layanan baru dari Daxing ke Frankfurt dan Milan akhir bulan ini bisa menarik trafik premium yang beralih dari Delta Sungai Mutiara. Bagi maskapai asing, peluang untuk mendapatkan slot penerbangan di China menjelang musim dingin 2026-27 mungkin akan terbuka lebih lebar jika maskapai lokal melepaskan slot yang kurang menguntungkan. Namun dalam waktu dekat, tim HR dan relokasi harus bersiap menghadapi ketidakpastian yang berkelanjutan. VariFlight memperkirakan tingkat pembatalan akan tetap dua digit hingga pekan Hari Buruh karena maskapai menyeimbangkan armada dan harga minyak tetap di atas US$90 per barel. Pemantauan jadwal secara proaktif dan alat pelacak perjalanan akan sangat penting untuk menjaga agar karyawan dan tim proyek tetap tepat waktu.
Sumber: Travel Daily Media