
Operator Fraport menginformasikan kepada para analis pada 5 Mei bahwa jumlah penumpang di hub terbesar Jerman turun sekitar “dua digit rendah” persen pada April dibandingkan tahun lalu. Laporan Reuters menyebut penurunan ini disebabkan oleh gelombang pemogokan Lufthansa dan penurunan tajam perjalanan ke Timur Tengah setelah eskalasi konflik yang melibatkan Iran. Penurunan ini berarti sekitar setengah juta penumpang lebih sedikit dalam sebulan. CFO Matthias Zieschang memperingatkan bahwa total penumpang sepanjang tahun kini diperkirakan berada di batas bawah proyeksi perusahaan sebesar 65–66 juta penumpang, sehingga perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap jumlah staf. Posisi staf penanganan darat akan dikurangi mulai pertengahan 2026, meskipun detailnya belum diumumkan. Bagi manajer mobilitas, angka ini menjadi peringatan serius: pengurangan frekuensi penerbangan dan pemangkasan staf bisa menyebabkan antrean lebih panjang di keamanan dan imigrasi, terutama saat maskapai lain meningkatkan kapasitas musim panas. Perusahaan disarankan mengingatkan pelancong untuk menyediakan waktu tambahan minimal 45 menit saat melakukan transfer udara-kereta di stasiun jarak jauh Frankfurt, karena koneksi Deutsche Bahn berisiko mengalami keterlambatan akibat kemacetan di bandara. Data ini juga menyoroti risiko geopolitik yang lebih luas. Rute Timur Tengah sangat penting bagi eksportir Jerman yang menyasar Teluk dan Asia-Pasifik, dan kekurangan kapasitas bisa memaksa pelancong memilih rute tidak langsung lewat Istanbul atau Doha, yang menambah kerumitan visa bagi beberapa kewarganegaraan. Pembeli perjalanan disarankan meninjau kembali perjanjian dengan maskapai untuk mendapatkan tarif fleksibel di hub alternatif.
Sumber: Reuters (via Investing.com)