
Ketegangan yang kembali memuncak antara Amerika Serikat dan Iran kini berdampak pada penerbangan di Teluk, memaksa maskapai utama Uni Emirat Arab memangkas layanan ke Kuwait dan wilayah selatan Arab Saudi pekan ini. Dalam pemberitahuan yang dikeluarkan dini hari tanggal 20 Juli, Emirates mengonfirmasi pembatalan setidaknya sepuluh penerbangan pulang-pergi di rute sibuk Dubai–Kuwait setelah Bandara Internasional Kuwait sempat menutup landasan pacu secara bergantian akibat kekhawatiran serangan rudal dan drone. Etihad Airways mengikuti langkah serupa dengan membatalkan penerbangan EY653/654 antara Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi dan Kuwait pada 19-20 Juli, sementara Air Arabia dan Flydubai melaporkan penundaan bergulir dan pergantian pesawat mendadak. Gangguan ini merupakan yang paling parah yang dialami UEA sejak ruang udara regional dibuka kembali akhir Mei lalu. Meski langit UEA sendiri tetap beroperasi penuh, maskapai kini harus melewati koridor sempit untuk menghindari zona konflik aktif di Teluk utara, menambah waktu penerbangan hingga 90 menit dan menciptakan kemacetan jadwal kru. Manajer operasional kepada The National menyatakan bahwa “pesawat cadangan” yang biasanya digunakan untuk penerbangan charter dadakan kini dialihkan untuk menutupi penerbangan yang tertunda, sehingga kapasitas keseluruhan menipis di puncak musim liburan musim panas. Bagi dunia bisnis, dampaknya langsung terasa: Kuwait merupakan jalur penting untuk pengangkutan minyak dan gas serta pusat staf kantor regional yang mengandalkan pertemuan satu hari di Dubai. Perusahaan multinasional melaporkan penundaan rapat dewan dan pengalihan perjalanan melalui Doha atau Riyadh dengan biaya lebih tinggi. Konsultan risiko perjalanan menyarankan perusahaan menyiapkan waktu luang 24–48 jam dalam jadwal, memperbarui boarding pass elektronik secara berkala, dan memesan hotel dengan kebijakan check-in fleksibel untuk antisipasi pengalihan menginap di Dammam atau Bahrain. Otoritas UEA belum memberlakukan pembatasan penerbangan resmi, namun Otoritas Penerbangan Sipil Umum menegaskan keselamatan tetap prioritas utama dan mengimbau penumpang untuk “tetap berkomunikasi erat dengan maskapai.” Para analis menilai kejadian ini menegaskan betapa rapuhnya model hub-and-spoke regional serta pentingnya bagi manajer perjalanan korporat untuk menjaga rencana darurat multi-bandara. Jika konflik meluas, diperkirakan akan terjadi ketidakstabilan jadwal lebih lanjut di rute-rute sekunder Teluk dan tekanan kenaikan tarif penerbangan jarak pendek hingga Agustus.
Sumber: The National