
Pertarungan hukum panjang mengenai siapa yang bertanggung jawab membayar saat penerbangan dibatalkan, tertunda, atau dialihkan telah mencapai pengadilan tertinggi Brasil. Pada 20 September 2026, Mahkamah Agung Federal (STF) menerima Kasasi Luar Biasa ARE 588 871, menetapkan pertanyaan apakah Kode Aeronautika Brasil dan regulasi Badan Penerbangan Sipil Nasional (ANAC) lebih diutamakan daripada Kode Perlindungan Konsumen untuk diputuskan secara pleno. Kasus ini muncul setelah sebuah maskapai digugat atas kompensasi akibat perubahan jadwal mendadak yang mereka klaim disebabkan oleh cuaca buruk. Pengadilan tingkat bawah memutuskan melawan maskapai tersebut dengan menerapkan standar hukum konsumen yang ketat, yang membuat maskapai bertanggung jawab tanpa memandang kesalahan. Maskapai berargumen bahwa kerangka kerja penerbangan khusus—terbaru diperbarui oleh Resolusi ANAC 400—sudah menyeimbangkan hak penumpang dengan kendala operasional dan keselamatan, sehingga harus diutamakan. Sementara itu, lembaga perlindungan konsumen berpendapat bahwa transportasi udara adalah hubungan bisnis-ke-konsumen klasik dan harus tetap berada di bawah perlindungan konsumen yang luas. STF mengakui masalah ini memiliki “dampak umum,” artinya keputusan mereka akan mengikat semua pengadilan di Brasil dan secara praktis mengubah perhitungan risiko bagi setiap maskapai domestik dan internasional yang melayani Brasil. Manajer perjalanan korporat dan tim mobilitas memantau dengan seksama. Putusan yang mendukung Kode Aeronautika dapat membatasi pembayaran kompensasi untuk perubahan jadwal akibat kejadian force majeure, mengurangi risiko hukum maskapai dan berpotensi menurunkan harga tiket. Sebaliknya, pengesahan standar hukum konsumen saat ini akan mempertahankan Brasil sebagai salah satu yurisdiksi paling ramah penumpang—dan penuh gugatan—di dunia, memaksa perusahaan menganggarkan premi asuransi perjalanan lebih tinggi dan menyiapkan waktu tunggu lebih panjang dalam jadwal karyawan. Saran praktis bagi profesional mobilitas global: tinjau kebijakan perjalanan perusahaan agar sesuai dengan aturan tanggung jawab khusus Brasil; pertimbangkan menambahkan klausul kontrak yang memperjelas siapa yang menanggung biaya gangguan tak terduga; dan pantau agenda STF—sidang lisan diperkirakan berlangsung sebelum akhir tahun, dengan keputusan final kemungkinan pada kuartal pertama 2027. Apapun hasilnya, keputusan ini akan menjadi preseden bagi negara-negara Mercosur tetangga yang sering menjadikan Brasil sebagai acuan dalam merancang regulasi penerbangan.
Sumber: JusBrasil